MAKALAH
TES ESSAY
Diajukan Untuk Memenuhi
Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Evaluasi
Pembelajaran
Dosen Pengampu: Edy
Chandra S.Si, MA

Disusun
Oleh:
Kelompok 4
Arif
Syarifudin (1413161001)
Januar Ningsih (1413162030)
Santi
Nurfadhillah S. (1413162041)
Biologi-B/ VI
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH
NURJATI KOTA CIREBON
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
proses pembelajaran, terdapat berbagai macam tes yang digunakan. Tes diberikan
sebagai sarana untuk mengetahui apakah materi-materi yang sudah disampaikan
selama proses belajar berlangsung, sudah diterima dan dipahami dengan baik oleh
siswa. Terdapat berbagai macam tes yang dapat digunakan, salah satu bentuk tes
itu adalah tes bentuk essay (uraian). Dengan digunakannya tes bentuk essay,
setidaknya dapat menjadi alat pengukur kemampuan siswa secara objektif.
Dalam
pelaksanaannya, ternyata tes bentuk essay ditemukan banyak kelemahan. Bentuk
essay sering disebut bentuk subjektif karena dalam pelaksanaannya sering
dipengaruhi oleh faktor subjektivitas guru. Oleh karena itu, seringkali ditemui
permasalahan dalam penilaian jawaban dari peserta didik. Banyak terjadi
kesalahan pemberian nilai kepada peserta didik, dikarenakan berbagai faktor
baik internal maupun eksternal.
Namun
demikian, tidak berarti bentuk essay tidak digunakan sebagai alat pengukur
kemampuan siswa. Bentuk essay dapat digunakan untuk mengukur kegiatan-kegiatan
belajar yang sulit diukur oleh bentuk-bentuk objektif. Dengan tes bentuk essay
ini, diharapkan siswa mampu menguraikan, mengorganisasikan, dan menyatakan
jawaban dengan kata-katanya sendiri.
Untuk
itu, dalam makalah ini akan membahas lebih detail mengenai tes essay. Adapun
materi yang akan dibahas mengenai tes essay antara lain pengertian tes essay, penggunaan tes essay, jenis-jenis tes
essay, kelebihan dan kelemahan tes essay, aturan mengkonstruksi pertanyaan
dalam tes essay, upaya meningkatkan objektivitas penilaian dalam tes essay dan metode pengoreksian tes essay.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah
mengenai tes essay adalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan tes essay?
2.
Bagaimana
penggunaan tes essay?
3.
Apa saja jenis-jenis tes essay?
4.
Bagaimana kelebihan dan kelemahan
tes essay?
5.
Bagaimana aturan mengkonstruksi
pertanyaan dalam tes essay?
6.
Bagaimana upaya meningkatkan
objektivitas penilaian dalam tes essay?
7.
Apa saja
metode pengoreksian tes essay?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam
makalah mengenai tes essay adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui pengertian tes essay.
2.
Mengetahui penggunaan tes essay.
3.
Mengetahui jenis-jenis tes essay.
4.
Mengetahui kelebihan dan kelemahan
tes essay.
5.
Mengetahui aturan mengkonstruksi
pertanyaan dalam tes essay.
6.
Mengetahui upaya meningkatkan
objektivitas penilaian dalam tes essay.
7.
Mengetahui metode pengoreksian tes essay.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tes Essay
Secara ontologis tes essay adalah
salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item
pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban
siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa
(Sukardi, 2008). Menurut Suherman (1993) tes essay adalah tes yang menuntut
siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang
telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan
tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri.
Senada dengan itu, menurut Oemar
Hamalik (2001) tes essay adalah salah satu bentuk tes yang terdiri dari satu
atau beberapa pertanyaan essay, yakni pertanyaan yang menuntut jawaban tertentu
oleh siswa secara individu berdasarkan pendapatnya sendiri. Setiap siswa
memiliki kesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan jawaban
siswa lainnya. Tes essay juga dapat disebut sebagai tes dengan menggunakan
pertanyaan terbuka, dimana dalam tes tersebut siswa diharuskan menjawab sesuai
dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Selain itu, menurut Suherman, E
(1993) tes essay juga sering disebut sebagai tes uraian karena untuk menjawab
soal siswa dituntut untuk menyusun jawaban secara terurai. Jawaban tidak cukup
hanya dengan satu atau dua kata saja, tetapi memerlukan uraian yang lengkap dan
jelas. Selain harus menguasai materi tes, siswa dituntut untuk bisa
mengungkapkannya dalam bahasa tulisan dengan baik. Tes essay yang biasa dipakai
di sekolah mempunyai arti yang luas, yaitu tidak hanya mengukur kemampuan siswa
dalam menyajikan pendapat pribadi, melainkan juga menuntut kemampuan siswa
dalam hal menyelesaikan hitungan, menganalisis masalah, dan mengekspresikan
pendapat.
B.
Penggunaan Tes Essay
Tes essay sangat baik digunakan
apabila:
1.
Jumlah peserta tes relatif sedikit,
misalnya kurang dari 100 orang. Bila peserta ujian terlalu banyak, misalnya
lebih dari 100 orang, penggunaan tes essay akan menyita waktu guru dalam
memeriksa lembar jawaban, sehingga kurang efisien lagi.
2.
Waktu yang dimiliki guru untuk
mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup
untuk memeriksa hasil ujian.
3.
Tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tulisan, menguji
kemampuan menulis dengan baik atau kemampuan penggunaan bahasa tulis.
4.
Ingin memperoleh informasi yang
tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian, tetapi dapat disimpulkan
dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai, atau pendapat.
5.
Untuk memperoleh hasil pengalaman
belajar siswa, maka tes essay merupakan salah satu bentuk yang paling tepat
untuk mengukur pengalaman belajar tersebut (Metika,
2011).
C.
Jenis-Jenis
Tes Essay
Tes essay dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu essay terbatas (restricted
respons items) dan essay bebas (extended respons
items). Tes essay tersebut dibedakan berdasarkan luas sempitnya materi
yang ditanyakan.
1.
Tes Essay Bebas (Extended
Respons Items)
Pada
tes essay bebas (extended respons items) peserta
dapat mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuan mereka tanpa ada
batasan-batasan dari pembuat soal, sehingga jawaban setiap peserta akan berbeda
satu sama lain. Namun, pembuat soal harus tetap mempunyai acuan pengoreksi
jawaban peserta.
Contoh:
a.
Bagaimana peranan pupuk kompos dalam
pertanian?
b.
Bagaimana peranan komputer dalam
dunia pendidikan?
2.
Tes Essay Terbatas (Restricted
Respons Items)
Pada
tes essay terbatas (restricted respons) peserta dapat dengan bebas
mengemukakan pendapat mereka, namun harus ada pokok penting yang terkandung
dalam jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan
dikehendaki dalam soal. Bentuk essay terbatas ini dapat dipergunakan untuk
menguji kemampuan sebab-akibat, menggambarkan prinsip-prinsip, mengajukan
argumentasi yang relevan, merumuskan hipotesis yang tepat, merumuskan asumsi
yang tepat, menggambarkan keterbatasan data, merumuskan kesimpulan yang tepat,
menjelaskan metode dan prosedur, dan hal-hal yang sejenis. Apabila disimpulkan
soal essay terbatas dapat menilai kemampuan-kemampuan peserta yang kompleks.
Contoh:
a.
Jelaskan bagaimana cara mancangkok
tanaman!
b.
Sebutkan komponen yang terdapat
untuk mengoperasikan komputer!
Depdikbud
sering menyebutkan bentuk-bentuk tes essay dengan sebutan lain, yaitu Bentuk
Essay Objektif (BOU) dan Bentuk Essay Non Objektif (BUNO). BOU dan BUNO
merupakan bagian dari bentuk tes essay terbatas. Penggelompokkan yang dilakukan
oleh Depdikbud berdasarakan pada pendekatan atau cara pemberian skor.
a.
Bentuk Essay Objektif (BOU)
Pada
BOU rumusan jawabannya lebih pasti sehingga dapat dilakukan penskoran secara
objektif. Jawaban yang benar dapat diberi skor 1 dan yang salah atau tidak
dijawab mendapat skor 0. Pada satu rumusan jawaban terdapat beberapa kata kunci
sehingga nilai maksimar skor dapat lebih dari satu. Kata kunci dapat berupa apa
saja seperti kalimat, kata, gambar, dan angka. Berikut adalah langkah-langkah
pemberian skor soal Bentuk Essay Objektif (BOU):
1)
Tuliskan kata kunci atau kemungkinan
jawaban benar secara jelas untuk setiap soal.
2)
Beri skor 1 untuk jawaban yang benar
sempurna dan tidak ada pemberian skor setengah untuk jawaban yang kurang
sempurna.
3)
Apabila pertanyaan terdiri dari
beberapa subpertanyaan, perincilah kata kunci dari setiap jawaban soal tersebut
menjadi beberapa kata kunci subjawaban dan buatkan skornya.
4)
Jumlahkan skor dari semua kata kunci
yang telah ditetapkan pada soal tersebut. Hasil penjumlahan skor ini disebut
skor maksimum.
Contoh:
Indikator :
Menuliskan keuntungan adanya pembangunan kenampakan buatan bagi masyarakat
Soal : Sebutkan
tujuan dan 4 manfaat adanya pembangunan waduk!
Langkah
penskoran:
1)
Tujuan waduk = menampung air
sungai = 1
2)
Manfaat =
pengendali banjir = 4
= rigasi lahan pertanian
= pembangkit
listrik
= pahan
baku air minum
=
perikanan
3)
Skor
maksimum = 5
b.
Bentuk Essay Non Objektif (BUNO)
Bentuk
Essay Non Objektif (BUNO) mempunyai struktur perumusan jawaban yang sama dengan
essay bebas sehingga memungkinkan terdapat unsur subjektivitas. Bentuk ini
dapat menilai hasil belajar siswa yang berupa kemampuan menghasilkan, menyusun
dan menyatakan ide-ide, memadukan berbagai hasil belajar, mendesain
sebuah eksperimen, dan menilai arti makna sebuah ide. Pada model ini penskoran
dijabarkan dengan menggunakan rentang. Rentangnya skor ditetapkan berdasarkan
kompleksitas jawaban. Skor mininal untuk peserta yang tidak menjawab adalah 0,
sedangkan skor maksimum ditentukan oleh penyusunan soal dan jawaban yang runtut
dalam soal tersebut. Langkah-langkah penskoran sebagai berikut:
1)
Menuliskan garis besar jawaban
sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pegangan dalam pemberian skor.
2)
Menetapkan rentang skor untuk setiap
kriteria jawaban.
3)
Pemberian skor tergantung pada
kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta
4)
Jumlahkan skor yang diperoleh dari
setiap kriteria jawaban.
5)
Periksalah soal setiap nomor sebelum
beralih kenomor yang lain untuk menghindari pemberian skor berbeda untuk
jawaban yang sama.
6)
Setelah semua butir soal mendapatkan
skor hitunglah skor yang diperoleh peserta, kemudian hitung nilai dengan rumus:
Nilai tiap soal = Skor
perolehan peserta didik x bobot soal
Skor
maksimum tiap butir soal
7)
Jumlahkan nilai semua soal. Jumlah
nilai ini disebut nilai akhir suatu perangkat tes yang diberikan.
Contoh:
Indikator: Menjelaskan alasan yang
membuat kita harus menghormati keragaman di Indonesia
Soal: Jelaskan alasan yang membuat
kita harus menghormati keragaman di Indonesia!
Kriteria:
1)
Kebanggaan yang berkaitan dengan
keragaman suku bangsa = 0-5
2)
Kebanggaan yang berkaitan dengan
keragaman suku budaya = 0-5
3)
Skor
maksimum = 10
D.
Kelebihan
dan Kelemahan Tes Essay
Kelebihan tes essay antara lain:
1.
Dapat digunakan untuk mengukur hasil
belajar yang kompleks, seperti kemampuan mengaplikasikan prinsip, kemampuan
menginterpretasikan hubungan, kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih dan
sebagainya. Namun demikian, tidak dengan sendirinya tes essay menghasilkan
pengukuran hasil belajar yang kompleks. Hal ini tergantung pada kemampuan
pembuat tes (guru maupun dosen) untuk menyusun butir soal essay. Bahkan, tidak
jarang ditemukan adanya butir soal essay yang menanyakan hal yang sederhana,
yang sebenarnya jauh lebih efektif bila dites dengan menggunakan butir soal
objektif.
2.
Meningkatkan motivasi peserta tes
untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif. Sesuai dengan sifatnya yang
menuntut kemampuan mengekspresikan dengan kata-kata sendiri, maka bentuk tes
essay menuntut penguasaan bahan secara penuh. Penguasaan bahan yang tanggung
dapat dideteksi dengan mudah melalui jawaban yang ditulis oleh peserta tes.
Oleh karena itu, untuk menjawab tes essay dengan baik peserta tes akan berusaha
menguasai bahan yang diperkirakan akan diujikan dalam tes secara tuntas.
3.
Mudah disiapkan dan disusun,
sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi guru untuk mempersiapkannya.
Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, pertama jumlah butir soal tidak
terlalu banyak, dan kedua guru tidak harus menyediakan jawaban atau kemungkinan
jawaban yang benar.
4.
Tidak banyak kesempatan untuk
berspekulasi atau untung-untungan. Karena tidak ada alternatif jawaban yang
disiapkan oleh penyusun tes maka peserta tes dituntut untuk betul-betul
memikirkan jawaban yang dibutuhkan.
5.
Mendorong siswa untuk berani
mengemukakan pendapat serta menyusunnya ke dalam bentuk kalimat yang tepat.
Dalam menjawab soal ujian tertulis peserta dituntut untuk mampu menyusun kalimat
yang mudah dipahami oleh pemeriksa hasil tes. Hal ini akan melatih keberanian
dan keterampilan siswa menyampaikan ide maupun gagasan secara tertulis.
6.
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri. Kemampuan
menjawab soal ujian essay dengan baik akan membantu meningkatkan keterampilan
siswa dalam menyatakan pikiran secara tertulis.
Terdapat juga kekurangan pada tes
essay antara lain:
1.
Reliabilitas tes rendah. Artinya
skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes
paralel diuji beberapa kali. Ada tiga penyebab rendahnya reliabilitas tes essay.
Pertama, keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam butir soal
tes. Karena sifat jawaban tes essay menuntut waktu yang relatif banyak, maka
tidak mungkin soal tes essay terdiri dari beberapa butir soal yang banyak
jumlahnya sehingga mewakili seluruh bahan yang diujikan. Hal ini berarti pokok
bahasan yang dapat diambil sebagai bahan tes sangat terbatas. Kedua, batas-batas
tugas yang harus dikerjakan peserta tes sangat longgar, walaupun telah
diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Keragaman jawaban
antar peserta tetap saja besar. Keragaman tidak hanya antara peserta tes,
tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, waktu, bahkan suasana tes yang
ada. Tes yang sama diuji pada pagi hari, dimana peserta masih segar akan
menghasilkan skor yang berbeda bila tes dilaksanakan pada siang hari. Dan ketiga, adanya
subjektivitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa jawaban tes. Berbeda
orang yang memeriksa, maka berbeda juga yang diperoleh peserta. Bahkan, orang
yang sama memeriksa tes yang sama pada waktu yang berbeda akan menghasilkan
skor yang berbeda pula.
2.
Membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk memeriksa lembar jawaban dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.
Adanya berbagai macam pertimbangan dalam penilaian hasil tes essay serta adanya
jawaban yang cukup panjang menyebabkan pemeriksaan lembar jawaban tes essay
membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan tes objekif.
Begitu adanya tuntutan bahwa pihak yang mengadakan penilaian juga harus
menguasai materi yang diujikan menyebabkan pemeriksaan terhadap hasil tes essay
tidak bisa diwakilkan kepada orang lain yang tidak menguasai materi.
3.
Jawaban peserta tes kadang-kadang
disertai dengan bualan. Peserta tes yang kurang menguasai bahan yang akan
diujikan acap kali mencoba menjawab dengan menguraikan hal lain yang tidak
berhubungan dengan hal yang ditanyakan atau dengan kata lain peserta tes membual.
Jawaban yang tidak berharga ini pun harus dibaca oleh guru dengan teliti.
4.
Kemampuan menyatakan pikiran secara
tertulis menjadi hal yang paling utama untuk membedakan prestasi belajar antara
siswa. Padahal tidak semua hasil belajar bisa dikomunikasikan dalam bentuk
tulisan. Sebagian besar hasil belajar lain dinyatakan dalam bentuk tingkah laku
atau sikap, bukan dalam bentuk pernyataan tertulis (Metika,
2011).
E. Aturan Mengkonstruksi Pertanyaan
dalam Tes Essay
Untuk
mengkonstruksi pertanyaan essay dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti
berikut:
1.
Para guru hendaknya memfokuskan
pertanyaan essay pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan
bentuk tes lain misalnya tes objektif. Ada beberapa faktor penting dalam
kegiatan pembelajaran yang hanya bisa diungkap oleh tes essay, antara lain:
pembelajaran yang kompleks, organisasi materi, integrasi penyusunan jawaban,
dan ekspresi penuangan ide dari pemikiran siswa ke dalam bentuk jawaban soal.
Hal ini menjadikan tes essay tetap menjadi pilihan para guru atau para
evaluator.
2.
Para guru hendaknya memformulasikan
item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik yang diperoleh dari
pengalaman hasil belajar. Tes yang direncanakan oleh guru, baik tes objektif
maupun tes essay perlu tetap mengukur penilaian tujuan instruksional.
Pertanyaan yang tidak mengarah pada tujuan instruksional sebaiknya
dikesampingkan lebih dahulu.
3.
Item-item pertanyaan tes essay
sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan (tidak mengandung makna
ambigu) sehingga para siswa dapat menjawab dengan tidak ragu-ragu. Menggunakan
kata-kata yang spesifik, seperti terangkan, bandingkan, buktikan, nyatakan
dalam kesimpulan, gunakan dan sebagainya.
4.
Sertakan petunjuk waktu pengerjaan
untuk setiap pertanyaan, agar para siswa dapat memperhitungkan kecepatan
berpikir, menulis dan menuangkan ide sesuai dengan waktu yang disediakan.
Pertimbangan waktu tersebut hendaknya didasarkan pada tingkat kesulitan setiap
pertanyaan.
5.
Ketika mengkonstruksi sejumlah
pertanyaan essay, para guru hendaknya menghindari menggunakan pertanyaan
pilihan. Pertanyaan pilihan biasanya terletak pada kalimat instruksi pengerjaan
pada awal tes, misalnya “pilih empat soal dari lima pertanyaan yang tersedia”.
Penggunaan pertanyaan pilihan dimungkinkan mempengaruhi reliabilitas tes essay
yang direncanakan (Metika, 2011).
F.
Upaya
Meningkatkan Objektivitas Penilaian dalam Tes Essay
Menurut
Gronlund, N. E (1982), terdapat beberapa upaya untuk meminimalkan subjektivitas
penilaian dan memberikan keseragaman standar penilaian dari siswa yang satu ke
siswa yang lainnya, yaitu sebagai berikut:
1.
Evaluasi jawaban-jawaban soal essay
dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur. Tes essay, seperti
halnya tes objektif, digunakan untuk memperoleh bukti yang jelas mengenai
sejauh mana hasil pembelajaran telah tercapai. Dengan demikian, kinerja siswa
yang diinginkan dalam hasil pembelajaran harus sesuai dengan panduan baik dalam
mengkontruksi pertanyaan maupun mengevaluasi jawaban. Jika suatu pertanyaan
dirancang untuk mengukur “kemampuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat”,
misalnya jawabannya harus dievaluasi dalam hal bagaimana siswa dapat
menjelaskan hubungan sebab-akibat tertentu yang disajikan dalam pertanyaan,
maka semua faktor-faktor lain, seperti informasi faktual yang menarik tapi
asing, gaya menulis, dan kesalahan dalam mengeja dan tata bahasa, harus
diabaikan (sejauh mungkin) selama evaluasi. Dalam beberapa kasus, untuk
kemampuan mengeja maupun menulis mungkin memberi skor-skor yang terpisah,
tetapi hal ini seharusnya tidak diperbolehkan karena dapat mencemarkan
(contaminate) skor yang mewakili pencapaian tingkat prestasi dari hasil pembelajaran
yang dimaksudkan.
2.
Untuk soal-soal essay dengan jawaban
terbatas (restricted-response questions), berilah skor dengan metode point
(point method), gunakan suatu model jawaban (pedoman jawaban) sebagai petunjuk.
Menskor dengan bantuan kunci jawaban yang sebelumnya disiapkan adalah mungkin
dengan item restricted-response karena keterbatasan pada jawabannya. Prosedur
ini melibatkan penulisan suatu model jawaban untuk setiap pertanyaan dan
menentukan jumlah point-point yang akan diperlukan untuk itu dan untuk
bagian-bagian di dalamnya. Distribusi point-point dalam jawaban tentu saja
harus mempertimbangkan semua unit scorable yang ditandai dalam hasil
pembelajaran yang diukur. Misalnya, point-point dapat diberikan pada relevansi
contoh yang digunakan dan struktur jawabannya, serta isi dari jawaban: jika hal
ini merupakan aspek yang sah dalam hasil belajar.
3.
Untuk soal-soal essay dengan jawaban
terbuka (extended-response questions), skorlah dengan rating method, gunakan
kriteria tertentu sebagai pedoman penskoran.
Item-item extended-response menuntut jawaban yang terbuka dan bebas sehingga sering kali tidak mungkin untuk menyiapkan pedoman jawabannya. Oleh karena itu, biasanya guru atau pembuat tes itu menilai tiap jawaban dengan menimbang-nimbang kualitasnya dalam hubungannya dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, jadi bukan menskor point demi point dengan kunci jawaban. Kriteria untuk menilai kualitas dari suatu jawaban ditentukan oleh sifat pertanyaan dan demikian juga oleh hasil pembelajaran yang diukur. Jika para siswa diminta untuk “menjelaskan rencana lengkap dari tes prestasi belajar”, misalnya kriteria akan mencakup hal-hal seperti (1) kelengkapan rencana (misalnya, apakah itu termasuk pernyataan objektif, kumpulan dari perencanaan yang terperinci, dan jenis yang sesuai item, (2) kejelasan dan akurasi dengan setiap langkah yang telah dijelaskan, (3) kecukupan pembenaran untuk setiap langkah, dan (4) tingkat keterpaduan dari bagian-bagian rencana. Biasanya kriteria untuk mengevaluasi jawaban digunakan untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban itu ke dalam lima tingkat, yang selanjutnya diberi skor 1, 2, 3, 4, 5 atau A, B, C, D, dan E.
Lebih lanjut keseragaman standar dari grading biasanya diperoleh dengan membaca jawaban dua kali untuk setiap pertanyaan. Selama membaca bacaan pertama, tulisan harus disortir secara tentatif menjadi lima tumpukan, mulai dari kualitas yang tinggi ke rendah atau sebaliknya. Pembacaan kedua dapat mencapai tujuan memeriksa keseragaman jawaban di setiap tumpukan dan membuat sebuah perubahan penting dalam menilai.
Item-item extended-response menuntut jawaban yang terbuka dan bebas sehingga sering kali tidak mungkin untuk menyiapkan pedoman jawabannya. Oleh karena itu, biasanya guru atau pembuat tes itu menilai tiap jawaban dengan menimbang-nimbang kualitasnya dalam hubungannya dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, jadi bukan menskor point demi point dengan kunci jawaban. Kriteria untuk menilai kualitas dari suatu jawaban ditentukan oleh sifat pertanyaan dan demikian juga oleh hasil pembelajaran yang diukur. Jika para siswa diminta untuk “menjelaskan rencana lengkap dari tes prestasi belajar”, misalnya kriteria akan mencakup hal-hal seperti (1) kelengkapan rencana (misalnya, apakah itu termasuk pernyataan objektif, kumpulan dari perencanaan yang terperinci, dan jenis yang sesuai item, (2) kejelasan dan akurasi dengan setiap langkah yang telah dijelaskan, (3) kecukupan pembenaran untuk setiap langkah, dan (4) tingkat keterpaduan dari bagian-bagian rencana. Biasanya kriteria untuk mengevaluasi jawaban digunakan untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban itu ke dalam lima tingkat, yang selanjutnya diberi skor 1, 2, 3, 4, 5 atau A, B, C, D, dan E.
Lebih lanjut keseragaman standar dari grading biasanya diperoleh dengan membaca jawaban dua kali untuk setiap pertanyaan. Selama membaca bacaan pertama, tulisan harus disortir secara tentatif menjadi lima tumpukan, mulai dari kualitas yang tinggi ke rendah atau sebaliknya. Pembacaan kedua dapat mencapai tujuan memeriksa keseragaman jawaban di setiap tumpukan dan membuat sebuah perubahan penting dalam menilai.
4.
Evaluasi semua jawaban-jawaban siswa
untuk satu pertanyaan sebelum melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Menskor
atau menilai tes essay dengan pertanyaan demi pertanyaan, lebih baik daripada
siswa demi siswa, hal ini memungkinkan untuk mempertahankan standar keseragaman
dalam menilai jawaban untuk setiap pertanyaan. Prosedur ini juga membantu untuk
menghindari halo effect dalam menilai. Manfaatnya adalah agar guru dapat
membandingkan jawaban-jawaban siswa dalam tingkat-tingkat yang lebih tepat, dan
agar guru hanya berpegang pada satu daftar angka guna menjamin ketepatan dalam
menilai.
5.
Evaluasi jawaban-jawaban soal essay
tanpa mengetahuai identitas penulis.
Hal ini merupakan upaya lain untuk mengontrol personal bias selama menskor. Jawaban-jawaban dari soal essay dievaluasi dalam bentuk tertulis, bukan dalam bentuk apa yang diketahui penulis dari kontak langsung dengan siswa. Cara terbaik untuk mencegah pembiasan dalam penilaian adalah mengevaluasi setiap jawaban tanpa mengetahui identitas penulis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menginformasikan kepada siswa untuk menuliskan namanya dibelakang kertas jawabannya atau dengan menggunakan kode nomor sebagai pengganti nama.
Hal ini merupakan upaya lain untuk mengontrol personal bias selama menskor. Jawaban-jawaban dari soal essay dievaluasi dalam bentuk tertulis, bukan dalam bentuk apa yang diketahui penulis dari kontak langsung dengan siswa. Cara terbaik untuk mencegah pembiasan dalam penilaian adalah mengevaluasi setiap jawaban tanpa mengetahui identitas penulis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menginformasikan kepada siswa untuk menuliskan namanya dibelakang kertas jawabannya atau dengan menggunakan kode nomor sebagai pengganti nama.
6.
Bila memungkinkan, mintalah dua atau
lebih orang guru lain yang mengetahui masalah itu, untuk menskor tiap jawaban. Hal
ini diperlukan untuk mengecek kehandalan scoring terhadap jawaban-jawaban essay
itu. Tentu saja hal ini tidak perlu dilakukan pada setiap penskoran, tetapi sewaktu-waktu
saja, misalnya jika diperlukan untuk memilih siswa-siswa yang akan dicalonkan
untuk mengikuti latihan tertentu atau untuk memilih juara sekolah (Metika,
2011).
G.
Metode Pengoreksian Tes Essay
Terdapat
3 metode yang dapat digunakan oleh guru dalam mengoreksi soal bentuk essay.
Metode-metode tersebut antara lain:
1.
Metode Pernomor (Whole Method)
Guru
mengoreksi hasil jawaban setiap nomor dari peserta didik, misalnya guru
mengoreksi nomor 1 terlebih dahulu dari jawaban seluruh peserta didik, kemudian
dilanjutkan ke nomor 2, dan seterusnya.
2.
Metode Perlembar (Separated Method)
Guru
mengoreksi satu lembar jawaban peserta didik mulai dari nomor 1 hingga nomor
terakhir, kemudian setelah selesai mengoreksi satu lembar jawaban dari peserta
didik yang satu, guru mengoreksi lembar jawab peserta didik yang lain, begitu
seterusnya.
3.
Metode Bersilang (Cross Method)
Guru
mengoreksi jawaban peserta didik dengan cara menukarkan
hasil koreksi dari seorang korektor kepada korektor yang lain.
Dengan kata lain, lembar jawab yang telah dikoreksi oleh seorang korektor,
kemudian dikoreksi kembali oleh korektor lain.
Kelebihan
dan Kekurangan Metode Pengoreksian
|
Jenis Metode
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
|
Pernomor
|
Pemberian skor yang berbeda atas dua jawaban yang
kualitasnya hampir sama hampir tidak akan terjadi.
|
Pelaksanaan terlalu berat dan memakan banyak waktu.
|
|
Perlembar
|
Tidak memakan waktu banyak.
|
Guru sering memberi skor yang berbeda atas dua jawaban
yang sama kualitasnya.
|
|
Bersilang
|
Hasil pengoreksian lebih objektif.
|
Membuang waktu dan tenaga yang banyak.
|
Di
samping metode-metode di atas, ada juga metode lain untuk mengoreksi jawaban
soal bentuk essay, antara lain:
1.
Metode Analisis (Analytical Method)
Cara
untuk mengoreksi jawaban peserta didik dengan membandingkan jawaban peserta
didik dengan model jawaban yang sudah disiapkan dan sudah dianalisis menjadi
beberapa langkah dan pada setiap langkah tersebut disediakan skor-skor
tertentu.Misalnya: ¼ benar diberikan skor 2,5; ½ benar diberikan skor 5; ¾
benar diberikan skor 7,5; dan benar semuanya diberikan skor 10 untuk setiap
item.
2.
Metode Penyortiran (Sorting
Method)
Cara
menskor dengan terlebih dahulu melakukan sortir terhadap keseluruhan pekerjaan
peserta didik. Penyortiran dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban
yang ada.Misalnya mengklasifikasikan skor ke dalam beberapa tingkatan seperti
jawaban benar (baik), cukup, sedang, kurang, dan kurang sekali.Tiap klasifikasi
diberikan skor misalnya 9 – 10; 7 – 8; 5 – 6; 3 – 4; dan 1 – 2 dari yang baik
hingga ke yang kurang sekali.
3.
Metode Poin (Point Method)
Dalam
metode ini (yang sering disebut sebagai metode poin jawaban), jawaban ideal
atau model jawaban disusun secara mendetail sampai ke poin-poin spesifik setiap
jawaban. Nilai yang akan diberikan kepada seorang siswa tergantung dari jumlah
poin-poin isi jawaban yang disertakan dalam jawabannya, selain itu komponen–komponen
bagian seperti kejelasan ekspresi yang digunakan, cara mengorganisasi pemikiran
yang logis, dan bukti pendukung jawaban juga dipertimbangkan dan diberi nilai.
Oleh karenaitu, sebuah daftar periksa sangat berguna untuk dapat memberikan
penilaian yang objektif. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
memberikan poin nilai untuksoal-soal essay tertentu adalah (1) waktu yang
diperlukan untuk menjawab soal tersebut, (2) tingkat kerumitan dari soal
tersebut, (3) penekanan pada isi yang dibahas pada suatu soal dalam garis-garis
besar tes. Jadi, setiap jawaban siswa dibandingkan dengan jawaban ideal yang
telah ditetapkan dalam kunci jawaban dan skor yang diberikan akan bergantung
pada derajat kepadanannya dengan kunci jawaban. Metode ini cocok untuk bentuk
essay terbatas, karena setiap jawaban sudah dibatasi dengan kriteria tertentu.
4.
Metode Rating
Dalam
metode penilaian global (juga disebut sebagai metode holistik atau metode rating),
jawaban ideal tidak dibagi-bagi ke dalam poin-poin spesifik dan komponen-komponen
tambahan; jawaban ideal hanya berfungsi sebagai standar. Tulisan siswa yang
kurang dari standar ideal tersebut dan yang melenceng dalam halkualitas
digolongkan kedalam standar diluar standar ideal atau tolok ukur ideal. Para guru
atau penilai kemudian diinstruksikan untuk memeriksa jawaban dengan cepat
danmemberikan pendapat globalnya secara keseluruhan megenai kualitas jawaban. Jadi,
jawaban setiap peserta didik ditetapkan dalam salah satu kelompok yang sudah
dipilah-pilah berdasarkan kualitasnya selagi jawaban tersebut dibaca.
Kelompok-kelompok tersebut menggambarkan kualitas dan dan menentukan berapa
skor yang akan diberikan pada setiap jawaban. Misalnya, sebuah soal akan diberi
skor maksimal 8, maka soal tersebut akan dapat dibuat menjadi 9 kelompok
jawaban, mulai dari 0 sampai 8. Metode ini cocok untuk bentuk essay bebas (Metika,
2011).
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan
mengenai tes essay, dapat disimpulkan bahwa:
1.
Tes essay adalah tes yang menuntut
siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang
telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan
tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri.
2.
Penggunaan tes essay sangat baik
digunakan salah satunya yaitu ketika jumlah peserta tes relatif sedikit,
misalnya kurang dari 100 orang dan waktu yang dimiliki guru untuk mempersiapkan
soal sangat terbatas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa
hasil ujian.
3.
Tes essay terbagi menjadi dua yaitu
essay terbatas (restricted respons items) dan essay bebas (extended
respons items). Namun Depdikbud
sering menyebutkan bentuk-bentuk tes essay dengan sebutan lain, yaitu Bentuk
Essay Objektif (BOU) dan Bentuk Essay Non Objektif (BUNO).
4.
Salah satu kelebihan tes essay yaitu
dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks sedangkan salah satu
kelemahan dari tes essay yaitu reliabilitas tes rendah dimana skor yang dicapai
oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes paralel diuji
beberapa kali.
5.
Mengkonstruksi pertanyaan essay
dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti memfokuskan pertanyaan essay pada
materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan bentuk tes lain misalnya
tes objektif, memformulasikan item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik
yang diperoleh dari pengalaman hasil belajar, item-item pertanyaan tes essay
sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan, sertakan petunjuk waktu
pengerjaan untuk setiap pertanyaan dan menghindari menggunakan pertanyaan
pilihan.
6.
Upaya untuk meminimalkan
subjektivitas penilaian dan memberikan keseragaman standar penilaian dari siswa
yang satu ke siswa yang lainnya salah satunya yaitu evaluasi jawaban-jawaban
soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur.
7.
Metode pengoreksian tes essay antara
lain metode pernomor (whole method), metode perlembar (separated
method), metode bersilang (cross method), metode analisis (analytical
method), metode penyortiran (sorting method), metode poin (point
method) dan metode
rating.
bagus artikelnya kak, kunjung balik ya kak,
BalasHapusazzahra tempat berbagi makalah geratis