Jumat, 28 Oktober 2016

Makalah Tes Essay

MAKALAH
TES ESSAY
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Evaluasi Pembelajaran
Dosen Pengampu: Edy Chandra S.Si, MA



Description: Logo IAIN Syekh Nurjati









Disusun Oleh:
Kelompok 4
Arif Syarifudin            (1413161001)
Januar Ningsih             (1413162030)
Santi Nurfadhillah S.   (1413162041)

Biologi-B/ VI





FAKULTAS ILMU TARBIYAH  DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI KOTA CIREBON
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran, terdapat berbagai macam tes yang digunakan. Tes diberikan sebagai sarana untuk mengetahui apakah materi-materi yang sudah disampaikan selama proses belajar berlangsung, sudah diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Terdapat berbagai macam tes yang dapat digunakan, salah satu bentuk tes itu adalah tes bentuk essay (uraian). Dengan digunakannya tes bentuk essay, setidaknya dapat menjadi alat pengukur kemampuan siswa secara objektif. 
Dalam pelaksanaannya, ternyata tes bentuk essay ditemukan banyak kelemahan. Bentuk essay sering disebut bentuk subjektif karena dalam pelaksanaannya sering dipengaruhi oleh faktor subjektivitas guru. Oleh karena itu, seringkali ditemui permasalahan dalam penilaian jawaban dari peserta didik. Banyak terjadi kesalahan pemberian nilai kepada peserta didik, dikarenakan berbagai faktor baik internal maupun eksternal.
Namun demikian, tidak berarti bentuk essay tidak digunakan sebagai alat pengukur kemampuan siswa. Bentuk essay dapat digunakan untuk mengukur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh bentuk-bentuk objektif. Dengan tes bentuk essay ini, diharapkan siswa mampu menguraikan, mengorganisasikan, dan menyatakan jawaban dengan kata-katanya sendiri.
Untuk itu, dalam makalah ini akan membahas lebih detail mengenai tes essay. Adapun materi yang akan dibahas mengenai tes essay antara lain pengertian tes essay, penggunaan tes essay, jenis-jenis tes essay, kelebihan dan kelemahan tes essay, aturan mengkonstruksi pertanyaan dalam tes essay, upaya meningkatkan objektivitas penilaian dalam tes essay dan metode pengoreksian tes essay.

B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah mengenai tes essay adalah sebagai berikut:
1.         Apa yang dimaksud dengan tes essay?
2.         Bagaimana penggunaan tes essay?
3.         Apa saja jenis-jenis tes essay?
4.         Bagaimana kelebihan dan kelemahan tes essay?
5.         Bagaimana aturan mengkonstruksi pertanyaan dalam tes essay?
6.         Bagaimana upaya meningkatkan objektivitas penilaian dalam tes essay?
7.         Apa saja metode pengoreksian tes essay?

C.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah mengenai tes essay adalah sebagai berikut:
1.         Mengetahui pengertian tes essay.
2.         Mengetahui penggunaan tes essay.
3.         Mengetahui jenis-jenis tes essay.
4.         Mengetahui kelebihan dan kelemahan tes essay.
5.         Mengetahui aturan mengkonstruksi pertanyaan dalam tes essay.
6.         Mengetahui upaya meningkatkan objektivitas penilaian dalam tes essay.
7.         Mengetahui metode pengoreksian tes essay.






















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Tes Essay
Secara ontologis tes essay adalah salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2008). Menurut Suherman (1993) tes essay adalah tes yang menuntut siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri. 
Senada dengan itu, menurut Oemar Hamalik (2001) tes essay adalah salah satu bentuk tes yang terdiri dari satu atau beberapa pertanyaan essay, yakni pertanyaan yang menuntut jawaban tertentu oleh siswa secara individu berdasarkan pendapatnya sendiri. Setiap siswa memiliki kesempatan memberikan jawabannya sendiri yang berbeda dengan jawaban siswa lainnya. Tes essay juga dapat disebut sebagai tes dengan menggunakan pertanyaan terbuka, dimana dalam tes tersebut siswa diharuskan menjawab sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Selain itu, menurut Suherman, E (1993) tes essay juga sering disebut sebagai tes uraian karena untuk menjawab soal siswa dituntut untuk menyusun jawaban secara terurai. Jawaban tidak cukup hanya dengan satu atau dua kata saja, tetapi memerlukan uraian yang lengkap dan jelas. Selain harus menguasai materi tes, siswa dituntut untuk bisa mengungkapkannya dalam bahasa tulisan dengan baik. Tes essay yang biasa dipakai di sekolah mempunyai arti yang luas, yaitu tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam menyajikan pendapat pribadi, melainkan juga menuntut kemampuan siswa dalam hal menyelesaikan hitungan, menganalisis masalah, dan mengekspresikan pendapat.

B.       Penggunaan Tes Essay
Tes essay sangat baik digunakan apabila:
1.         Jumlah peserta tes relatif sedikit, misalnya kurang dari 100 orang. Bila peserta ujian terlalu banyak, misalnya lebih dari 100 orang, penggunaan tes essay akan menyita waktu guru dalam memeriksa lembar jawaban, sehingga kurang efisien lagi.
2.         Waktu yang dimiliki guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian.
3.         Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tulisan, menguji kemampuan menulis dengan baik atau kemampuan penggunaan bahasa tulis.
4.         Ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian, tetapi dapat disimpulkan dari tulisan peserta tes, seperti sikap, nilai, atau pendapat.
5.         Untuk memperoleh hasil pengalaman belajar siswa, maka tes essay merupakan salah satu bentuk yang paling tepat untuk mengukur pengalaman belajar tersebut (Metika, 2011).

C.      Jenis-Jenis Tes Essay
Tes essay dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu essay terbatas (restricted respons items) dan essay bebas (extended respons items). Tes essay tersebut dibedakan berdasarkan luas sempitnya materi yang ditanyakan.
1.         Tes Essay Bebas (Extended Respons Items) 
Pada tes essay bebas (extended respons items) peserta dapat mengemukakan pendapat sesuai dengan kemampuan mereka tanpa ada batasan-batasan dari pembuat soal, sehingga jawaban setiap peserta akan berbeda satu sama lain. Namun, pembuat soal harus tetap mempunyai acuan pengoreksi jawaban peserta.
Contoh:
a.         Bagaimana peranan pupuk kompos dalam pertanian?
b.        Bagaimana peranan komputer dalam dunia pendidikan?
2.         Tes Essay Terbatas (Restricted Respons Items)
Pada tes essay terbatas (restricted respons) peserta dapat dengan bebas mengemukakan pendapat mereka, namun harus ada pokok penting yang terkandung dalam jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikehendaki dalam soal. Bentuk essay terbatas ini dapat dipergunakan untuk menguji kemampuan sebab-akibat, menggambarkan prinsip-prinsip, mengajukan argumentasi yang relevan, merumuskan hipotesis yang tepat, merumuskan asumsi yang tepat, menggambarkan keterbatasan data, merumuskan kesimpulan yang tepat, menjelaskan metode dan prosedur, dan hal-hal yang sejenis. Apabila disimpulkan soal essay terbatas dapat menilai kemampuan-kemampuan peserta yang kompleks.
Contoh:
a.         Jelaskan bagaimana cara mancangkok tanaman!
b.        Sebutkan komponen yang terdapat untuk mengoperasikan komputer!
Depdikbud sering menyebutkan bentuk-bentuk tes essay dengan sebutan lain, yaitu Bentuk Essay Objektif (BOU) dan Bentuk Essay Non Objektif (BUNO). BOU dan BUNO merupakan bagian dari bentuk tes essay terbatas. Penggelompokkan yang dilakukan oleh Depdikbud berdasarakan pada pendekatan atau cara pemberian skor.
a.         Bentuk Essay Objektif (BOU)
Pada BOU rumusan jawabannya lebih pasti sehingga dapat dilakukan penskoran secara objektif. Jawaban yang benar dapat diberi skor 1 dan yang salah atau tidak dijawab mendapat skor 0. Pada satu rumusan jawaban terdapat beberapa kata kunci sehingga nilai maksimar skor dapat lebih dari satu. Kata kunci dapat berupa apa saja seperti kalimat, kata, gambar, dan angka. Berikut adalah langkah-langkah pemberian skor soal Bentuk Essay Objektif (BOU):
1)        Tuliskan kata kunci atau kemungkinan jawaban benar secara jelas untuk setiap soal.
2)        Beri skor 1 untuk jawaban yang benar sempurna dan tidak ada pemberian skor setengah untuk jawaban yang kurang sempurna.
3)        Apabila pertanyaan terdiri dari beberapa subpertanyaan, perincilah kata kunci dari setiap jawaban soal tersebut menjadi beberapa kata kunci subjawaban dan buatkan skornya.
4)        Jumlahkan skor dari semua kata kunci yang telah ditetapkan pada soal tersebut. Hasil penjumlahan skor ini disebut skor maksimum.
Contoh:
Indikator            : Menuliskan keuntungan adanya pembangunan kenampakan buatan bagi masyarakat
Soal     : Sebutkan tujuan dan 4 manfaat adanya pembangunan waduk!
Langkah penskoran:
1)        Tujuan waduk = menampung air sungai                 = 1
2)        Manfaat                                                                 = pengendali banjir                                           = 4
                        = rigasi lahan pertanian
              = pembangkit listrik
              = pahan baku air minum
              = perikanan
3)        Skor maksimum                                                      = 5

b.        Bentuk Essay Non Objektif (BUNO)
Bentuk Essay Non Objektif (BUNO) mempunyai struktur perumusan jawaban yang sama dengan essay bebas sehingga memungkinkan terdapat unsur subjektivitas. Bentuk ini dapat menilai hasil belajar siswa yang berupa kemampuan menghasilkan, menyusun dan menyatakan ide-ide,  memadukan berbagai hasil belajar, mendesain sebuah eksperimen, dan menilai arti makna sebuah ide. Pada model ini penskoran dijabarkan dengan menggunakan rentang. Rentangnya skor ditetapkan berdasarkan kompleksitas jawaban. Skor mininal untuk peserta yang tidak menjawab adalah 0, sedangkan skor maksimum ditentukan oleh penyusunan soal dan jawaban yang runtut dalam soal tersebut. Langkah-langkah penskoran sebagai berikut:
1)        Menuliskan garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan pegangan dalam pemberian skor.
2)        Menetapkan rentang skor untuk setiap kriteria jawaban.
3)        Pemberian skor tergantung pada kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta
4)        Jumlahkan skor yang diperoleh dari setiap kriteria jawaban.
5)        Periksalah soal setiap nomor sebelum beralih kenomor yang lain untuk menghindari pemberian skor berbeda untuk jawaban yang sama.
6)        Setelah semua butir soal mendapatkan skor hitunglah skor yang diperoleh peserta, kemudian hitung nilai dengan rumus:
Nilai tiap soal = Skor perolehan peserta didik  x bobot soal
                         Skor maksimum tiap butir soal
7)        Jumlahkan nilai semua soal. Jumlah nilai ini disebut nilai akhir suatu perangkat tes yang diberikan.
Contoh:
Indikator: Menjelaskan alasan yang membuat kita harus menghormati keragaman di Indonesia
Soal: Jelaskan alasan yang membuat kita harus menghormati keragaman di Indonesia!
Kriteria:
1)        Kebanggaan yang berkaitan dengan keragaman suku bangsa   = 0-5
2)        Kebanggaan yang berkaitan dengan keragaman suku budaya  = 0-5
3)        Skor maksimum                                                                         = 10
D.      Kelebihan dan Kelemahan Tes Essay
Kelebihan tes essay antara lain:
1.         Dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, seperti kemampuan mengaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasikan hubungan, kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih dan sebagainya. Namun demikian, tidak dengan sendirinya tes essay menghasilkan pengukuran hasil belajar yang kompleks. Hal ini tergantung pada kemampuan pembuat tes (guru maupun dosen) untuk menyusun butir soal essay. Bahkan, tidak jarang ditemukan adanya butir soal essay yang menanyakan hal yang sederhana, yang sebenarnya jauh lebih efektif bila dites dengan menggunakan butir soal objektif.
2.         Meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif. Sesuai dengan sifatnya yang menuntut kemampuan mengekspresikan dengan kata-kata sendiri, maka bentuk tes essay menuntut penguasaan bahan secara penuh. Penguasaan bahan yang tanggung dapat dideteksi dengan mudah melalui jawaban yang ditulis oleh peserta tes. Oleh karena itu, untuk menjawab tes essay dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakan akan diujikan dalam tes secara tuntas. 
3.         Mudah disiapkan dan disusun, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi guru untuk mempersiapkannya. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, pertama jumlah butir soal tidak terlalu banyak, dan kedua guru tidak harus menyediakan jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar.
4.         Tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan. Karena tidak ada alternatif jawaban yang disiapkan oleh penyusun tes maka peserta tes dituntut untuk betul-betul memikirkan jawaban yang dibutuhkan.
5.         Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusunnya ke dalam bentuk kalimat yang tepat. Dalam menjawab soal ujian tertulis peserta dituntut untuk mampu menyusun kalimat yang mudah dipahami oleh pemeriksa hasil tes. Hal ini akan melatih keberanian dan keterampilan siswa menyampaikan ide maupun gagasan secara tertulis.
6.         Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri. Kemampuan menjawab soal ujian essay dengan baik akan membantu meningkatkan keterampilan siswa dalam menyatakan pikiran secara tertulis.

Terdapat juga kekurangan pada tes essay antara lain:
1.         Reliabilitas tes rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes paralel diuji beberapa kali. Ada tiga penyebab rendahnya reliabilitas tes essay. Pertama, keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam butir soal tes. Karena sifat jawaban tes essay menuntut waktu yang relatif banyak, maka tidak mungkin soal tes essay terdiri dari beberapa butir soal yang banyak jumlahnya sehingga mewakili seluruh bahan yang diujikan. Hal ini berarti pokok bahasan yang dapat diambil sebagai bahan tes sangat terbatas. Kedua, batas-batas tugas yang harus dikerjakan peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Keragaman jawaban antar peserta tetap saja besar. Keragaman tidak hanya antara peserta tes, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan, waktu, bahkan suasana tes yang ada. Tes yang sama diuji pada pagi hari, dimana peserta masih segar akan menghasilkan skor yang berbeda bila tes dilaksanakan pada siang hari. Dan ketiga, adanya subjektivitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa jawaban tes. Berbeda orang yang memeriksa, maka berbeda juga yang diperoleh peserta. Bahkan, orang yang sama memeriksa tes yang sama pada waktu yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda pula.
2.         Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memeriksa lembar jawaban dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Adanya berbagai macam pertimbangan dalam penilaian hasil tes essay serta adanya jawaban yang cukup panjang menyebabkan pemeriksaan lembar jawaban tes essay membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan tes objekif. Begitu adanya tuntutan bahwa pihak yang mengadakan penilaian juga harus menguasai materi yang diujikan menyebabkan pemeriksaan terhadap hasil tes essay tidak bisa diwakilkan kepada orang lain yang tidak menguasai materi.
3.         Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan. Peserta tes yang kurang menguasai bahan yang akan diujikan acap kali mencoba menjawab dengan menguraikan hal lain yang tidak berhubungan dengan hal yang ditanyakan atau dengan kata lain peserta tes membual. Jawaban yang tidak berharga ini pun harus dibaca oleh guru dengan teliti.
4.         Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling utama untuk membedakan prestasi belajar antara siswa. Padahal tidak semua hasil belajar bisa dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Sebagian besar hasil belajar lain dinyatakan dalam bentuk tingkah laku atau sikap, bukan dalam bentuk pernyataan tertulis (Metika, 2011).

E.       Aturan Mengkonstruksi Pertanyaan dalam Tes Essay
Untuk mengkonstruksi pertanyaan essay dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti berikut:
1.         Para guru hendaknya memfokuskan pertanyaan essay pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif. Ada beberapa faktor penting dalam kegiatan pembelajaran yang hanya bisa diungkap oleh tes essay, antara lain: pembelajaran yang kompleks, organisasi materi, integrasi penyusunan jawaban, dan ekspresi penuangan ide dari pemikiran siswa ke dalam bentuk jawaban soal. Hal ini menjadikan tes essay tetap menjadi pilihan para guru atau para evaluator.
2.         Para guru hendaknya memformulasikan item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik yang diperoleh dari pengalaman hasil belajar. Tes yang direncanakan oleh guru, baik tes objektif maupun tes essay perlu tetap mengukur penilaian tujuan instruksional. Pertanyaan yang tidak mengarah pada tujuan instruksional sebaiknya dikesampingkan lebih dahulu. 
3.         Item-item pertanyaan tes essay sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan (tidak mengandung makna ambigu) sehingga para siswa dapat menjawab dengan tidak ragu-ragu. Menggunakan kata-kata yang spesifik, seperti terangkan, bandingkan, buktikan, nyatakan dalam kesimpulan, gunakan dan sebagainya.
4.         Sertakan petunjuk waktu pengerjaan untuk setiap pertanyaan, agar para siswa dapat memperhitungkan kecepatan berpikir, menulis dan menuangkan ide sesuai dengan waktu yang disediakan. Pertimbangan waktu tersebut hendaknya didasarkan pada tingkat kesulitan setiap pertanyaan.
5.         Ketika mengkonstruksi sejumlah pertanyaan essay, para guru hendaknya menghindari menggunakan pertanyaan pilihan. Pertanyaan pilihan biasanya terletak pada kalimat instruksi pengerjaan pada awal tes, misalnya “pilih empat soal dari lima pertanyaan yang tersedia”. Penggunaan pertanyaan pilihan dimungkinkan mempengaruhi reliabilitas tes essay yang direncanakan (Metika, 2011).



F.       Upaya Meningkatkan Objektivitas Penilaian dalam Tes Essay
Menurut Gronlund, N. E (1982), terdapat beberapa upaya untuk meminimalkan subjektivitas penilaian dan memberikan keseragaman standar penilaian dari siswa yang satu ke siswa yang lainnya, yaitu sebagai berikut:
1.         Evaluasi jawaban-jawaban soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur. Tes essay, seperti halnya tes objektif, digunakan untuk memperoleh bukti yang jelas mengenai sejauh mana hasil pembelajaran telah tercapai. Dengan demikian, kinerja siswa yang diinginkan dalam hasil pembelajaran harus sesuai dengan panduan baik dalam mengkontruksi pertanyaan maupun mengevaluasi jawaban. Jika suatu pertanyaan dirancang untuk mengukur “kemampuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat”, misalnya jawabannya harus dievaluasi dalam hal bagaimana siswa dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat tertentu yang disajikan dalam pertanyaan, maka semua faktor-faktor lain, seperti informasi faktual yang menarik tapi asing, gaya menulis, dan kesalahan dalam mengeja dan tata bahasa, harus diabaikan (sejauh mungkin) selama evaluasi. Dalam beberapa kasus, untuk kemampuan mengeja maupun menulis mungkin memberi skor-skor yang terpisah, tetapi hal ini seharusnya tidak diperbolehkan karena dapat mencemarkan (contaminate) skor yang mewakili pencapaian tingkat prestasi dari hasil pembelajaran yang dimaksudkan.
2.         Untuk soal-soal essay dengan jawaban terbatas (restricted-response questions), berilah skor dengan metode point (point method), gunakan suatu model jawaban (pedoman jawaban) sebagai petunjuk. Menskor dengan bantuan kunci jawaban yang sebelumnya disiapkan adalah mungkin dengan item restricted-response karena keterbatasan pada jawabannya. Prosedur ini melibatkan penulisan suatu model jawaban untuk setiap pertanyaan dan menentukan jumlah point-point yang akan diperlukan untuk itu dan untuk bagian-bagian di dalamnya. Distribusi point-point dalam jawaban tentu saja harus mempertimbangkan semua unit scorable yang ditandai dalam hasil pembelajaran yang diukur. Misalnya, point-point dapat diberikan pada relevansi contoh yang digunakan dan struktur jawabannya, serta isi dari jawaban: jika hal ini merupakan aspek yang sah dalam hasil belajar. 
3.         Untuk soal-soal essay dengan jawaban terbuka (extended-response questions), skorlah dengan rating method, gunakan kriteria tertentu sebagai pedoman penskoran.
Item-item extended-response menuntut jawaban yang terbuka dan bebas sehingga sering kali tidak mungkin untuk menyiapkan pedoman jawabannya. Oleh karena itu, biasanya guru atau pembuat tes itu menilai tiap jawaban dengan menimbang-nimbang kualitasnya dalam hubungannya dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, jadi bukan menskor point demi point dengan kunci jawaban. Kriteria untuk menilai kualitas dari suatu jawaban ditentukan oleh sifat pertanyaan dan demikian juga oleh hasil pembelajaran yang diukur. Jika para siswa diminta untuk “menjelaskan rencana lengkap dari tes prestasi belajar”, misalnya kriteria akan mencakup hal-hal seperti (1) kelengkapan rencana (misalnya, apakah itu termasuk pernyataan objektif, kumpulan dari perencanaan yang terperinci, dan jenis yang sesuai item, (2) kejelasan dan akurasi dengan setiap langkah yang telah dijelaskan, (3) kecukupan pembenaran untuk setiap langkah, dan (4) tingkat keterpaduan dari bagian-bagian rencana. Biasanya kriteria untuk mengevaluasi jawaban digunakan untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban itu ke dalam lima tingkat, yang selanjutnya diberi skor 1, 2, 3, 4, 5 atau A, B, C, D, dan E.
Lebih lanjut keseragaman standar dari grading biasanya diperoleh dengan membaca jawaban dua kali untuk setiap pertanyaan. Selama membaca bacaan pertama, tulisan harus disortir secara tentatif menjadi lima tumpukan, mulai dari kualitas yang tinggi ke rendah atau sebaliknya. Pembacaan kedua dapat mencapai tujuan memeriksa keseragaman jawaban di setiap tumpukan dan membuat sebuah perubahan penting dalam menilai.
4.         Evaluasi semua jawaban-jawaban siswa untuk satu pertanyaan sebelum melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Menskor atau menilai tes essay dengan pertanyaan demi pertanyaan, lebih baik daripada siswa demi siswa, hal ini memungkinkan untuk mempertahankan standar keseragaman dalam menilai jawaban untuk setiap pertanyaan. Prosedur ini juga membantu untuk menghindari halo effect dalam menilai. Manfaatnya adalah agar guru dapat membandingkan jawaban-jawaban siswa dalam tingkat-tingkat yang lebih tepat, dan agar guru hanya berpegang pada satu daftar angka guna menjamin ketepatan dalam menilai.
5.         Evaluasi jawaban-jawaban soal essay tanpa mengetahuai identitas penulis.
Hal ini merupakan upaya lain untuk mengontrol personal bias selama menskor. Jawaban-jawaban dari soal essay dievaluasi dalam bentuk tertulis, bukan dalam bentuk apa yang diketahui penulis dari kontak langsung dengan siswa. Cara terbaik untuk mencegah pembiasan dalam penilaian adalah mengevaluasi setiap jawaban tanpa mengetahui identitas penulis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menginformasikan kepada siswa untuk menuliskan namanya dibelakang kertas jawabannya atau dengan menggunakan kode nomor sebagai pengganti nama.
6.         Bila memungkinkan, mintalah dua atau lebih orang guru lain yang mengetahui masalah itu, untuk menskor tiap jawaban. Hal ini diperlukan untuk mengecek kehandalan scoring terhadap jawaban-jawaban essay itu. Tentu saja hal ini tidak perlu dilakukan pada setiap penskoran, tetapi sewaktu-waktu saja, misalnya jika diperlukan untuk memilih siswa-siswa yang akan dicalonkan untuk mengikuti latihan tertentu atau untuk memilih juara sekolah (Metika, 2011).

G.      Metode Pengoreksian Tes Essay
Terdapat 3 metode yang dapat digunakan oleh guru dalam mengoreksi soal bentuk essay. Metode-metode tersebut antara lain:
1.         Metode Pernomor (Whole Method)
Guru mengoreksi hasil jawaban setiap nomor dari peserta didik, misalnya guru mengoreksi nomor 1 terlebih dahulu dari jawaban seluruh peserta didik, kemudian dilanjutkan ke nomor 2, dan seterusnya.
2.         Metode Perlembar (Separated Method)
Guru mengoreksi satu lembar jawaban peserta didik mulai dari nomor 1 hingga nomor terakhir, kemudian setelah selesai mengoreksi satu lembar jawaban dari peserta didik yang satu, guru mengoreksi lembar jawab peserta didik yang lain, begitu seterusnya.
3.         Metode Bersilang (Cross Method)
Guru mengoreksi jawaban peserta didik dengan cara menukarkan hasil  koreksi dari seorang korektor kepada korektor yang lain. Dengan kata lain, lembar jawab yang telah dikoreksi oleh seorang korektor, kemudian dikoreksi kembali oleh korektor lain.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Pengoreksian
Jenis Metode
Kelebihan
Kekurangan
Pernomor
Pemberian skor yang berbeda atas dua jawaban yang kualitasnya hampir sama hampir tidak akan terjadi.
Pelaksanaan terlalu berat dan memakan banyak waktu.
Perlembar
Tidak memakan waktu banyak.
Guru sering memberi skor yang berbeda atas dua jawaban yang sama kualitasnya.
Bersilang
Hasil pengoreksian lebih objektif.
Membuang waktu dan tenaga yang banyak.
Di samping metode-metode di atas, ada juga metode lain untuk mengoreksi jawaban soal bentuk essay, antara lain:
1.         Metode Analisis (Analytical Method)
Cara untuk mengoreksi jawaban peserta didik dengan membandingkan jawaban peserta didik dengan model jawaban yang sudah disiapkan dan sudah dianalisis menjadi beberapa langkah dan pada setiap langkah tersebut disediakan skor-skor tertentu.Misalnya: ¼ benar diberikan skor 2,5; ½ benar diberikan skor 5; ¾ benar diberikan skor 7,5; dan benar semuanya diberikan skor 10 untuk setiap item.
2.         Metode Penyortiran (Sorting Method)
Cara menskor dengan terlebih dahulu melakukan sortir terhadap keseluruhan pekerjaan peserta didik. Penyortiran dilakukan dengan mengklasifikasikan jawaban yang ada.Misalnya mengklasifikasikan skor ke dalam beberapa tingkatan seperti jawaban benar (baik), cukup, sedang, kurang, dan kurang sekali.Tiap klasifikasi diberikan skor misalnya 9 – 10; 7 – 8; 5 – 6; 3 – 4; dan 1 – 2 dari yang baik hingga ke yang kurang sekali.
3.         Metode Poin (Point Method)
Dalam metode ini (yang sering disebut sebagai metode poin jawaban), jawaban ideal atau model jawaban disusun secara mendetail sampai ke poin-poin spesifik setiap jawaban. Nilai yang akan diberikan kepada seorang siswa tergantung dari jumlah poin-poin isi jawaban yang disertakan dalam jawabannya, selain itu komponen–komponen bagian seperti kejelasan ekspresi yang digunakan, cara mengorganisasi pemikiran yang logis, dan bukti pendukung jawaban juga dipertimbangkan dan diberi nilai. Oleh karenaitu, sebuah daftar periksa sangat berguna untuk dapat memberikan penilaian yang objektif. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memberikan poin nilai untuksoal-soal essay tertentu adalah (1) waktu yang diperlukan untuk menjawab soal tersebut, (2) tingkat kerumitan dari soal tersebut, (3) penekanan pada isi yang dibahas pada suatu soal dalam garis-garis besar tes. Jadi, setiap jawaban siswa dibandingkan dengan jawaban ideal yang telah ditetapkan dalam kunci jawaban dan skor yang diberikan akan bergantung pada derajat kepadanannya dengan kunci jawaban. Metode ini cocok untuk bentuk essay terbatas, karena setiap jawaban sudah dibatasi dengan kriteria tertentu.
4.         Metode Rating
Dalam metode penilaian global (juga disebut sebagai metode holistik atau metode rating), jawaban ideal tidak dibagi-bagi ke dalam poin-poin spesifik dan komponen-komponen tambahan; jawaban ideal hanya berfungsi sebagai standar. Tulisan siswa yang kurang dari standar ideal tersebut dan yang melenceng dalam halkualitas digolongkan kedalam standar diluar standar ideal atau tolok ukur ideal. Para guru atau penilai kemudian diinstruksikan untuk memeriksa jawaban dengan cepat danmemberikan pendapat globalnya secara keseluruhan megenai kualitas jawaban. Jadi, jawaban setiap peserta didik ditetapkan dalam salah satu kelompok yang sudah dipilah-pilah berdasarkan kualitasnya selagi jawaban tersebut dibaca. Kelompok-kelompok tersebut menggambarkan kualitas dan dan menentukan berapa skor yang akan diberikan pada setiap jawaban. Misalnya, sebuah soal akan diberi skor maksimal 8, maka soal tersebut akan dapat dibuat menjadi 9 kelompok jawaban, mulai dari 0 sampai 8. Metode ini cocok untuk bentuk essay bebas (Metika, 2011).
















BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai tes essay, dapat disimpulkan bahwa:
1.        Tes essay adalah tes yang menuntut siswa untuk dapat menyusun dan memadukan gagasan-gagasan tentang hal-hal yang telah dipelajarinya, dengan cara mengekspresikan atau mengemukakan gagasan tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri. 
2.        Penggunaan tes essay sangat baik digunakan salah satunya yaitu ketika jumlah peserta tes relatif sedikit, misalnya kurang dari 100 orang dan waktu yang dimiliki guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan ia mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian.
3.        Tes essay terbagi menjadi dua yaitu essay terbatas (restricted respons items) dan essay bebas (extended respons items). Namun Depdikbud sering menyebutkan bentuk-bentuk tes essay dengan sebutan lain, yaitu Bentuk Essay Objektif (BOU) dan Bentuk Essay Non Objektif (BUNO).
4.        Salah satu kelebihan tes essay yaitu dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks sedangkan salah satu kelemahan dari tes essay yaitu reliabilitas tes rendah dimana skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes paralel diuji beberapa kali.
5.        Mengkonstruksi pertanyaan essay dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti memfokuskan pertanyaan essay pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif, memformulasikan item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik yang diperoleh dari pengalaman hasil belajar, item-item pertanyaan tes essay sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan, sertakan petunjuk waktu pengerjaan untuk setiap pertanyaan dan menghindari menggunakan pertanyaan pilihan.
6.        Upaya untuk meminimalkan subjektivitas penilaian dan memberikan keseragaman standar penilaian dari siswa yang satu ke siswa yang lainnya salah satunya yaitu evaluasi jawaban-jawaban soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur.
7.        Metode pengoreksian tes essay antara lain metode pernomor (whole method), metode perlembar (separated method), metode bersilang (cross method), metode analisis (analytical method), metode penyortiran (sorting method), metode poin (point method) dan metode rating.

1 komentar: