FILSAFAT YUNANI KLASIK
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Filsafat Umum
Dosen Pengampu: Dr. Anda Juanda, M.Pd.
Disusun Oleh : Kelompok 4
Januar Ningsih
(1413162030)
Nurzillahani
(1413162037)
Santi
Nurfadhillah.S (1413162041)
Vivy
Novitasary (1413162044)
Kelas: BIOLOGI-B / VI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN
KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI
KOTA CIREBON
TAHUN 2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... i
FILSAFAT YUNANI
KLASIK ......................................................................................... 1
A.
Filsafat Yunani Klasik ............................................................................................... 1
1.
Sekitar Filsafat Yunani Klasik ............................................................................... 1
2.
Letak Perbedaan Pemikiran Filosof
Yunani Kuno dan Yunani Klasik .................. 2
B.
Tiga Filosof Besar Zaman Yunani
Klasik ................................................................... 2
1.
Zaman Socrates ..................................................................................................... 2
a.
Riwayat Hidup Socrates ................................................................................... 2
b.
Ajaran Kefilsafatan Socrates ............................................................................ 3
c.
Sumbangan Socrates terhadap
Pengembangan Kurikulum ................................ 6
1)
Tujuan Pembelajaran ................................................................................... 6
2)
Kurikulum yang Dikembangkan .................................................................. 6
3)
Proses Pembelajaran .................................................................................... 7
4)
Hasil Belajar Siswa ...................................................................................... 7
2.
Zaman Plato .......................................................................................................... 7
a.
Riwayat Hidup Plato ......................................................................................... 7
b.
Ajaran dan Karya Kefilsafatannya ................................................................... 8
c.
Sumbangan Plato terhadap
Pengembangan Kurikulum ..................................... 11
1)
Tujuan Pembelajaran ................................................................................... 11
2)
Kurikulum yang Dikembangkan .................................................................. 11
3)
Proses Pembelajaran .................................................................................... 13
4)
Hasil Belajar Siswa ...................................................................................... 14
3.
Zaman Aristoteles ................................................................................................. 14
a.
Riwayat Hidup ................................................................................................. 14
b.
Ajaran dan Karya Kefilsafatannya ................................................................... 16
c.
Sumbangan Aristoteles terhadap
Pengembangan Kurikulum ............................ 20
1)
Tujuan Pembelajaran ................................................................................... 20
2)
Kurikulum yang Dikembangkan .................................................................. 21
3)
Proses Pembelajaran .................................................................................... 27
4)
Hasil Belajar Siswa ...................................................................................... 33
4.
Perbedaan Filsafat Plato dan
Aristoteles dan Implikasinya terhadap ..................... 35
Kurikulum
Masa Kini
C.
Rangkuman dan Tugas ............................................................................................... 41
1.
Rangkuman ........................................................................................................... 41
2.
Tugas .................................................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 43
FILSAFAT YUNANI KLASIK
A.
Filsafat Yunani
Klasik
1.
Sekitar Filsafat Yunani Klasik
Filsafat Yunani Klasik berlangsung pada abad 5 SM-2 SM. Pada masa
ini filsafat bercorak “antroposentris” artinya menjadikan manusia (antropos)
sebagai objek pemikiran filsafat mereka. Mereka berupaya mencari jawaban
tentang masalah etika dan hakikat manusia. Tokoh-tokoh dari filsafat Yunani
klasik ini, diantaranya ada Socrates, Plato dan Aristoteles. Mereka dijuluki
filsuf klasik karena mereka memiliki ide-ide yang masih tetap aktual
(Mustansyir, 2001: 12).
Periode Yunani Klasik ini dipandang sebagai zaman keemasan
Filsafat, karena pada periode inilah dimana orang-orang memiliki kebebasan
untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Pada periode Yunani Klasik ini
perkembangan filsafat menunjukkan kepesatan, yaitu ditandainya dengan semakin
besarnya minat orang terhadap filsafat. Aliran yang mengawali periode Yunani
Klasik ini adalah Sofisme. Penamaan aliran Sofisme ini berasal dari kata Sophos
yang artinya cerdik pandai. Keberadaan Sofisme ini dengan keahliannya dalam
bidang-bidang bahasa, politik, retorika, dan terutama tentang kosmos dan
kehidupan manusia di masyarakat sehingga keberadaan Sofisme ini dapat membawa
perubahan budaya dan peradaban Athena. Ajaran para sofis sangat berbeda dari
ajaran para filsuf sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada filsafat alam, ilmu
pasti, atau metafisika. Mereka menilai filsafat-filsafat sebelumnya terlalu
mengawang-awang. Mereka mengkritik filsafat-filsafat sebelumnya. Mereka lebih
tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia, moral,
norma, dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan pada generasi
muda dan dikembangkan untuk kelangsungan Negara.
Diatas telah disebutkan bahwa timbulnya kaum sofis karena akibat
dari minat orang terhadap filsafat. Akan tetapi, terdapat tiga faktor yang mendorong timbulnya kaum sofis, yaitu sebagai
berikut :
a.
Perkembangan secara pesat kota
Athena dalam bidang politik dan ekonomi. Hal ini mengakibatkan kota Athena
menjadi ramai, demikian juga para ahli pikir atau intelektual yang mengunjungi
Athena. Dengan demikian, Athena menjadi kota yang berkembang sangat pesat dalam
bidang intelektual maupun bidang kultural.
b.
Setelah kota Athena mengalami
keramaian penduduknya, maka kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan
lagi karena desakan kaum intelektual. Lebih-lebih kota Athena sebagai pusat
politik sehingga peranan pendidikan sangat penting untuk mendidik kaum mudanya.
c.
Karena pemukiman perkotaan bangsa
Yunani biasanya terletak di pantai, kontak dan pergaulan dengan bangsa lain
tidak dapat terelakkan lagi. Hingga akhirnya, orang-orang Yunani banyak
mengenal berbagai kebudayaan, dan sekaligus terjadi akulturasi kebudayaan. Sehingga
dengan terbukanya masyarakat Yunani terhadap budaya luar akan membuat
orang-orang Yunani menjadi dinamis dan berkembang (Nafas, 2015).
2.
Letak Perbedaan Filosof Yunani Kuno
dan Yunani Klasik
a.
Filsafat Yunani Kuno
Pada zaman Yunani, filafat merupakan dasar untuk memandang hakikat segala
sesuatu termasuk bahasa. Hal ini dapat dipahami karena pada zaman tersebut
belum berkembang ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, bahasa juga
merupakan objek materi pemecahan problem spekulatif para filsuf. Pada saat itu
muncullah persoalan filsofis yaitu apakah bahasa itu dikuasai oleh alam, nature
atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos.
Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa bersifat alamiah (fisei) menyatakan
bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip
abadi. Kaum ini selanjutnya mengutarakan bahwa bahasa bukanlah hanya bersifat
fisie belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau fisei. Sebaliknya
Pembahasan kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari
hasil-hasil tradisi, kebiasaan-kebiasaan berupa persetujuan diam, karena hal
ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dan dapat berubah dalam perjalanan
zaman (Anonim, 2010).
b.
Filafat Yunani Klasik
Pada periode Yunani Klasik ini perkembangan filsafat menunjukkan
kepesatan, yaitu ditandainya dengan semakin besarnya minat orang terhadap
filsafat. Aliran yang mengawali periode Yunani Klasik ini adalah Sofisme.
Penamaan aliran sofisme ini berasal dari kata sophos yang artinya cerdik
pandai. Keberadaan sofisme ini dengan keahliannya dalam bidang-bidang bahasa,
politik, retorika, dan terutama memparkan tentang kosmos dan kehidupan manusia
di masyarakat sehingga keberadaan sofisme ini dapat membawa perubahan budaya
dan peradaban Athena. Ajaran para sofis sangat berbeda dari ajaran para filsuf
sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada filsafat alam, ilmu pasti, atau
metafisika. Mereka menilai filsafat-filsafat sebelumnya terlalu
mengawang-awang. Mereka mengkritik filsafat-filsafat sebelumnya. Mereka lebih
tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia, moral,
norma, dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan pada generasi
muda dan dikembangkan untuk kelangsungan Negara (Nafas, 2015).
B.
Tiga Filosof
Besar Zaman Yunani Klasik
1.
Zaman Socrates (470 SM-399 SM)
a. Riwayat
Hidup Socrates
|
www.wikipedia.com
|
Pada hari tuanya, Socrates melihat kota tumpah
darahnya mulai mundur, setelah mencapai puncak kebesaran yang gilang- gemilang.
Socrates terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur dan adil. Cara
penyampaian pemikirannya kepada para pemuda menggunakan metode tanya jawab.
Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati dari para pemuda di negerinya.
Namun ia, juga kurang di senangi oleh orang banyak dengan menuduhnya sebagai
orang yang merusak moral para pemuda negerinya. Selain itu, ia juga dituduh
menolak dewa-dewa atau tuhan-tuhan yang telah di akui Negara (Anonim, 2011).
Sebagai kelanjutan atas tuduhan terhadap dirinya, ia
diadili oleh pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan, ia mengatakan
pembelaannya yang kemudian ditulis oleh plato dalam naskahnya yang berjudul Apologi.
Plato mengisahkan adanya tuduhan itu. Socrates dituduh tidak hanya menentang
agama yang di akui oleh Negara, juga mengajarkan agama baru buatannya sendiri
(Hendi, 2008: 178–179).
b. Ajaran
Kefilsafatan Socrates
1) Metode
Menurut
Abidin (2011: 100) mengatakan bahwa Socrates menolak subjektivisme dan
relatifisme dari kaum sofis yang menyebabkan timbulnya skeptisisme bagi
Socrates, kebenaran objektif yang hendak digapai bukanlah semata-mata untuk
membangun suatu ilmu pengetahuan teoritis yang abstrak, tetapi justru untuk
meraih kebajikan, karena menurut Socrates filsafat adalah upaya untuk mencapai
kebajikan. Kebajikan itu harus tampak lewat tingkah laku manusia yang pantas,
yang baik, dan yang terpuji.
Untuk menggapai kebenaran objektif itu, Socrates menggunakan suatu
metode yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang amat erat digenggamnya.
Menurut Socrates, metode yang dijalankan olehnya bukanlah penyelidikan atas
fakta- fakta melainkan analisis atas pendapat-pendapat atau pertanyaan-pertanyaan
yang diucapkan oleh orang atau oleh negarawan (Rapar, 1996: 100).
Socrates selalu bertanya tentang apa yang diucapkan oleh mereka
atau oleh teman bicaranya itu. Jika mereka atau para negarawan bicara tentang
kebaikan dan keadilan, kemudian ia bertanya apa yang dimaksud adil dan baik
itu? jika mereka bicara tentang keberanian, ia bertanya apa yang dimaksud
dengan berani, pemberani, dan pengecut? dan seterusnya. Metodenya ini disebut
dialektika, yakni bercakap-cakap atau berdialog (Abidin, 2011: 100).
Dalam menjalani hidupnya sebagai seorang filsuf, Socrates
menggunakan metode-metode yang membantunya, beberapa metode tersebut adalah
sebagai berikut:
2) Dialektika
Metode
yang digunakan Socrates biasanya disebut dialektika dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap
atau berdialog yang mempunyai peran penting didalamnya. Menurut Socrates Dialog
adalah “wahana” berfilsafat. Jadi dialog itu “membuka” pikiran, “mencairkan”
kebekuan pikiran, “melahirkan” pikiran dan “menuntut” perjalanan pikiran (Salam,
2008: 149).
Dalam metode ini Socrates mendatangi bermacam-macam orang (ahli
politik, pejabat, dan lain-lainnya). Kepada mereka mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan yang mengenai pekerjaan mereka, hidup mereka sehari-hari
dan lain-lainnya. Kemudian jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan
disimpulkan dalam suatu hipotesa (Tafsir, 2010: 54).
Hipotesa ini dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi.
Demikian seterusnya sehingga ia mencapai tujuannya, yaitu membuka kedok segala
peraturan hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak
orang melacak atau menelusuri sember-sember hukum yang sejati. Supaya tujuan
itu tercapai diperlukan suatu pembentukan pengertian yang murni (Tafsir, 2010: 54-55).
3)
Maieutika
Menurut Gaarder (1997: 83) mengemukakan bahwa Maieutika sering juga
disebut dengan istilah metode kebidanan, karena dengan cara ini Socrates
bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran seorang bayi pengertian
yang benar, maksudnya adalah Socrates menganggap bahwa tugasnya adalah seperti
membantu orang-orang “melahirkan” wawasan yang benar, sebab pemahaman yang
sejati harus timbul dari dalam diri sendiri.
Dengan cara bekerja yang demikian, Socrates menemukan suatu cara
berfikir yang disebut induksi, yaitu menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya
umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus.
Umpamanya: banyak orang yang menganggap keahliannya (sebagai tukang besi,
tukang septum dan lain-lain) sebagai keutamaannya. Seorang tukang besi berpendapat
bahwa keutamaannya ialah jikalau ia membuat alat-alat dari besi yang baik (Garder, 1997: 84).
Untuk mengetahui apakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat
khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan dan
tinggal yang umum. Demikian dengan induksi akan ditemukan apa yang disebut
definisi umum. Socrates adalah orang yang menemukannya, dan ternyata penting
sekali artinya bagi ilmu pengetahuan masa kini (Tafsir, 2008: 57).
Dalam logikanya Aristoteles menggunakan istilah induksi ketika
pemikirannya bertolak dari pengetahuan yang khusus, kemudian dapat disimpulkan
pengetahuan yang umum. Hal ini dilakukan oleh Socrates, Ia bertolak dari
contoh-contoh yang kongkret yang kemudian dapat menyimpulkan pengertian yang
umum. Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relative
kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum (Tafsir, 2008: 57).
Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis
bahwa pengetahuan yang umum itu ada, yaitu definisi. Jadi, orang sofis itu
tidak seluruhnya benar: yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan
sebagian lagi pengetahuan itu bersifat khusus, dan yang khusus itulah
pengetahuan yang kebenarannya relative (Tafsir, 2008: 56 ).
Salah satu contohnya dalam kehidupan sehari-hari yaitu, Apakah
kursi itu? Kita periksa seluruh kursi, kalau bisa kursi yang ada diseluruh
dunia ini. Kita akan menemukan ada kursi hakim, ada tempat duduk dan
sandarannya, kakinya empat, dari bahan jati; kita lihat ada kursi malas, ada tempat
duduk dan sandarannya, kakinya dua, dari besi anti karat; kita periksa ada
kursi makan, ada tempat duduk dan sandarannya, kakinya tiga, dari rotan;
begitulah seterusnya macam-macam kursi yang ada (Tafsir, 2008: 57).
4) Ironi
Kata
ironi berasal dari bahasa Yunani yang bermakna bersikap pura-pura, cara
seseorang berbicara, pura-pura menyetujui apa yang dikatakan oleh lawan
bicaranya, tetapi dengan senyuman, mimik dan sebagainya menyangkal pendapat
orang itu. Oleh Socrates dipergunakan untuk membimbing lawan bicaanya kepada
kebenaran (Garder, 1997: 83).
5)
Etika
Menurut Lavine (2012: 12)
mengemukakan bahwa Etika (Etimologik), berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berarti kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan
moral yang berasal dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara
hidup. etika juga
dapat disebut dengan filsafat moral. Etika
dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit
perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan Etika dipakai untuk mengkaji sistem nilai-nilai yang ada.
Pandangan Socrates mengenai kebijakan, yakni apa yang benar dan apa
yang baik, bisa dinamakan filsafat
moral rasionalistik. Filsafat moral rasionalistik merupakan pandangan
yang menganggap pemikiran atau rasionalitas sebagai faktor eksekutif atau
domain dalam tingkah laku bermoral (Hartoko, 2002: 23).
Dari pandangan etik yang rasionil itu Socrates sampai kepada sikap
hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Sering pula dikemukakannya bahwa Tuhan
itu dirasai sebagai suara dari dalam yang menjadi bimbingan baginya dalam
segala perbuatannya. Itulah yang disebut daimonion dan semua orang yang
mendengarkan suara daimonion itu dari dalam jiwanya apabila ia mau
(Salam, 2008: 170 ).
Filsafat Socrates banyak membahas masalah-masalah etika. Ia
beranggapan bahwa yang paling utama dalam kehidupan bukanlah kekayaan atau
kehormatan, melainkan kesehatan jiwa. Prasyarat utama dalam kehidupan manusia
adalah jiwa yang sehat. Jiwa manusia harus sehat terlebih dahulu, agar
tujuan-tujuan hidup yang lainnya dapat diraih (Abidin, 2011: 100).
6)
Pemikiran tentang Politik
Dalam Apologia, Socrates mengakui bahwa ia tidak merasa terpanggil
untuk campur tangan dalam urusan-urusan politik, tetapi ia selalu setia pada
kewajiban-kewajibannya sebagai warga negara. Bila ia dihukum mati, ia tidak mau
melarikan diri, dengan alasan bahwa sampai saat terakhir ia akan taat pada
Undang-Undang di Athena. Ia meneruskan prinsip-prinsip etikanya juga dalam
bidang politik. Menurut Socrates tugas negara ialah memajukan kebahagiaan para
warga negara dan membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin (Bertens, 1975:
92).
7)
Pemikiran tentang Negara
Menurut Salam (2008: 158) mengatakan bahwa ajaran atau pandangan
Socrates mengenai negara belum terlalu jelas, akan tetapi Socrates telah
memberikan mengenai asas-asas etika dalam kenegaraan. Menurut Socrates,
bahwasannya negara itu mempunyai tugas untuk mewujudkan kebahagiaan bagi warga
negaranya masig-masing dengan cara membuat jiwa mereka sebaik mungkin. Oleh
karenanya seorang penguasa harus tahu “apa yang baik”. Di dalam pemerintahan, yang paling penting
bukan hanya demokrasi atau suara rakyat saja, akan tetapi harus adanya keahlian
yang khusus yaitu mengenai pengenalan tentang “ yang baik ”.
c. Sumbangan
Socrates terhadap Pengembangan Kurikulum
1) Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran menurut Socrates adalah membuktikan bahwa tidak semua kebenaran
itu relative. Ia berpendapat bahwa ada kebenaran umum yang dapat di pegang oleh
semua orang dan sebagian kebenaran memang relative, tetapi tidak semuanya.
Socrates lebih menekankan kepada sains dan agama yang bertolak dari pengalaman
sehari-hari sehingga ia tidak menyetujuai relativisme kaum sufis (Stittaqwa,
2012).
2) Kurikulum
yang di kembangkan
Kurikulum yang di kembangkan Socrates adalah peninggalan pemikirannya yang paling penting ada pada
cara dia berfilsafat dengan mengejar satu definisi absolut atas satu
permasalahan melalui satu dialektika. Pengajaran pengetahuan hakiki melalui
penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi parafilsuf selanjutnya. Perubahan fokus filsafat
dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan sebagai jasa dari Sokrates.
Manusia menjadi objek filsafat yang penting
setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam
semesta (Wikipedia,
2010).
Pemikiran tentang manusia
ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di
kemudian hari. Sumbangan Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah
metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang
banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates
dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat
secara umum (Wikipedia, 2010).
3)
Proses
Pembelajaran
Proses pembelajaran Socrates biasanya
menggunakan metode dialektika dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog yang
mempunyai peran penting didalamnya. Menurut Socrates Dialog adalah “wahana”
berfilsafat. Jadi dialog itu “membuka” pikiran, “mencairkan” kebekuan pikiran,
“melahirkan” pikiran dan “menuntut” perjalanan pikiran (Salam, 2008: 149).
4)
Hasil
Belajar Siswa
Hasil belajar siswa dengan menggunakan proses
pembelajaran Socrates terhadap pengembangan kurikulum yaitu siswa mampu
menyimpulkan pengertian umum melalui pertanyaan-pertanyaan yang di berikan
kepada orang-orang yang berbeda sehingga menghasilkan jawaban-jawaban yang di
setujui bersama (Wikipedia, 2010).
2.
Zaman Plato (427 SM-347 SM)
a.
Riwayat Hidup Plato
Lingkungan keluarganya yang berlatar
belakang politik membuatnya memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang
tata negara dan idealismenya. Dia memiliki cita-cita menjadi seorang negarawan
besar, akan tetapi perkembangan politik saat itu tidak memungkingkan baginya
untuk mengejar impiannya itu (Anonim, 2013).
Plato memiliki nama asli Aristokles,
gurunya memberikan nama “Plato” dikarenakan postur tubuhnya yang tegak, tinggi,
bahunya yang lebar dan raut mukanya yang tegap, serta parasnya yang elok. Plato mendapatkan banyak pelajaran semasa
kecilnya, diantaranya yaitu menggambar, melukis, musik dan puisi. Bakatnya dan kepintarannya
mulai terlihat saat dia mulai beranjak dewasa dia sudah pandai membuat karangan
yang bersajak.
Selain pelajaran umum, Plato muda juga
banyak belajar filosofi. Plato mendapat didikan dari guru-guru filosofi,
pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya adalah murid
Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu” seperti air. Sejak umur 20
tahun Plato mengikuti pelajaran Sokrates dan pelajaran itulah yang memberikan
kepuasan baginya (Prastiana, 2010: 1).
Pelajaran-pelajaran filosofi yang
diperolehnya membentuk Plato menjadi
seorang pemikir hebat. Pemikiran-pemikirannya banyak diaptasi dari pemikiran
gurunya yaitu Sokrates. Pandangannya tentang tata negara dan pemerintahan tidak bisa lepas
dari pemikiran Sokrates. Bermula dari sikap simpatinya melihat kerusakan Athena akibat kekuasaan tirani dan
oligarki, Plato banyak menulis tentang konsep-konsep pemerintahan yang ideal.
Pemikirannya yang cemerlang dan inovatif, dipadukan dengan kemampuannya
bersajak menghasilkan gaya bahasa yang indah dan penuh makna.
Hal ini menjadi Plato sebagai filosof
masyhur pada masa itu. Plato merupakan seorang pemikir politik idealis-empiris
yang mencetuskan pemikiran tentang ide-ide. Menurut Plato ide bersifat
objektif, ide tidak bergantung pada pemikiran tetapi pemikiran lah yang bergantung
pada ide. Ide berada di luar pemikiran dan berdiri sendiri. Ide-ide ini
kemudian saling berkaitan satu sama lain yang memungkinkan munculnya pemikiran
(Syam, 2007: 28).
Tidak lama setelah Sokrates meninggal,
Plato pergi dari Atena, itulah permulaan ia mengembara 12 tahun lamanya dari
tahun 399 SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan
filosofinya. Dari Megara ia pergi ke Kyrena, dimana ia memperdalam
pengetahuannya tentang matematik pada seorang guru yang bernama Theodoros, disana
ia juga mengarang buku-buku dan mengajarkan filosofi.
Kemudian ia pergi ke Italia Selatan dan
terus ke Sirakusa di pulau Sisiria yang pada wkatu itu diperintah oleh seorang
tiran yang bernama Dionysios yang mengajak Plato tinggal di istananya. Disitu
Plato kenal dengan ipar raja Dionysios yang masih muda bernama Dion yang
akhirnya menjadi sahabat karibnya. Mereka berdua sepakat mempengaruhi Dionysisos dengan ajaran filosofinya
agar kehidupan sosialnya menjadi lebih baik. Akhirnya Plato kembali ke Atena
dan memusatkan pada Akademia sebagai guru dan pengarang. Plato tidak pernah
menikah dan tidak punya anak (Prastiana, 2010: 2).
b. Ajaran dan Karya Kefilsafatannya
1)
Konsep
tentang Ide
Plato adalah seorang filsuf yang memiliki
pemikiran tentang hakekat dari ide. Menurutnya, ide berbeda
dengan pemikiran karena ide lebih luas cakupannya, lebih besar dan lebih nyata.
Ide bersifat abadi dan dari ide itulah manusia akan menciptakan
pemikiran-pemikiran yang baru.
Idea menurut paham Plato tidak saja
pengertian jenis, tetapi juga bentuk dari kedaan yang sebenarnya. Idea bukanlah
suatu suatu pikiran melainkan suatu realita. Sesuatu yang baru dalam ajaran
Plato ialah pendapatnya tentang suatu dunia yang tidak bertubuh. Maka dari itu, ide adalah pondasi dan pijakan dalam membuat suatu
pemikiran (Prastiana, 2010: 1).
Plato
membagi realitas menjadi dua, yaitu dunia yang terbuka bagi rasio dan
dunia yang terbuka bagi panca indra. Dunia yang terbuka pada rasio terdiri dari
ide-ide dan sifatnya abadi serta tidak dapat berubah. Dunia yang terbuka bagi
panca indra adalah dunia jasmani dan sifatnya selalu bisa berubah (Syam, 2007: 28).
Dunia jasmani menurutnya hanyalah sebuah
cerminan dari dunia ide. Panca indra sangat diandalkan untuk bisa memahami
dunia jasmani. Sebaliknya, pada dunia rasio yang diandalkan adalah ide-ide dan
kemampuan berpikir. Plato beranggapan bahwa dalam memahami sesuatu sangatlah tidak relevan
jika hanya mengandalkan pada dunia jasmani yang senantiasa berubah. Contohnya,
menurut Plato meskipun terdapat banyak kursi tetapi hanya ada satu ide tentang
kursi yang bersifat real.
Ide yang real ini diciptakan oleh Tuhan
dan merupakkan suatu pengetahuan. Sebaliknya ranjang yang hanya meniru ide yang
real dikatakan tidak real dan hanyalah berupa opini. Ide tiruan ini diciptakan
oleh tukang kayu. Pengetahuan mencakup sesuatu yang eksis dan tidak mungkin salah.
Pengetahuan berada di luar jangkauan indrawi dan bersifat abadi. Menurut Plato
pengetahuan telah ada sebelumnya dan sudah ada dalam pikiran kira. Pengetahuan mengacu pada keindahan pada
suatu benda. Sedangkan opini bisa keliru karena opini mencakup segala sesuatu
yang tidak eksis. Opini bersifat indrawi dan berkaitan dengan benda-benda yang
indah (Syam, 2007: 28).
2)
Ajaran tentang Jiwa
Plato beranggapan bahwa jiwa merupakan intisari
kepribadian manusia. Dalam dialog Phaidros, terdapat argumen yang bermaksud
membuktikan kebakaan jiwa. Plato menganggap jiwa sebagai prinsip yang
menggerakkan dirinya sendiri dan oleh karenanya juga dapat menggerakkan badan.
Baginya, jiwa itu bersifat baka dan tidak akan mati, karena jiwa sudah ada
sebelum manusia hidup di dunia. Berdasarkan pendiriannya mengenai pra eksistensi jiwa, Plato merancang
suatu teori tentang pengenalan. Baginya, pengenalan tidak lain daripada
pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat pada waktu pra eksistensi (Bertens, 1998: 112-113).
Dengan pemikiran ini, Plato dapat mendamaikan
pertentangan pendapat antara Herakleitos dan Kratylos. Herakleitos beranggapan
bahwa semuanya senantiasa berubah, tidak ada sesuatu yang mantap. Kratylos
beranggapan bahwa pengenalan tidak mungkin karena perubahan yang terus menerus
dan tak henti-henti. Akan tetapi dengan teorinya tersebut Plato dapat
menyatukan semua pandangan itu.
3)
Konsep tentang Negara
Filsafat Plato memuncak dalam uraian-urainannya
mengenai Negara. Latar belakangnya yaitu pengalaman yang pahit mengenai politik
Athena.
a)
Politeia
(Tata Negara)
Menurut Plato alasan yang mengakibatkan manusia hidup dalam polis yaitu bersifat
ekonomis, manusia membutuhkan sesamanya. Petani mebutuhkan penjahit pakaian,
dan sebaliknya. Jika polisi sudah mencapai taraf yang lebih mewah, akan
diperlukan ahli musik, penyair, guru dan lain-lain (Bertens, 1998: 117).
Karena terdapat spesialisasi dalam bidang pekerjaan,
maka harus ada segolongan orang yang hanya ditugaskan untuk melakukan perang, yaitu
para “penjaga”. Keadilan yang telah tercipta dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
dapat terjaga dan tumbuh dalam masyarakat apabila pemimpinnya merupakan
seseorang yang bijaksana. Dalam hal ini, pemimpin yang bijaksana adalah
pemimpin filosof (king philosopher).
Jika sebuah pemerintahan tidak dipimpin oleh
pemimpin filosof, maka ketidakadilan akan lebih memungkinkan untuk terjadi
daripada keadilan itu sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan
sebuah aturan (rule) agar keadilan dapat terjaga. Hal ini merupakan landasan pemikiran
untuk menjelaskan bahwa Negara yang baik haruslah dipimpin oleh orang yang
secara moralitas baik. Mengangkat pemimpin dalam sebuah Negara yang ideal tidak
sekedar mencari pemimpin semata.
b)
Politikus (Negarawan)
Tentang bentuk Negara yang baik menurut Plato
sebaiknya undang-undang dibuat sejauh dirasakan perlu menurut keadaan yang
konkret, kira-kira seperti seorang dokter yang mengganti obat menurut keadaan pasien.
Negara yang didalamnya terdapat undang-undang dasar, bentuk Negara yang paling
baik adalah monarki, yang kurang baik adalah aristokrasi, dan yang tidak baik adalah
demokrasi (Bartens, 2000: 123).
c)
Nomoi
(Undang-Undang)
Nomoi meneruskan persoalan yang telah dibicarakan
oleh politikos. Karena susunan negara dimana filsuf memegang kekuasaan tidak
praktis, maka undang-unfang menjadi instansi tertinggi dalam Negara. Bentuk negara yang diusulkan nomoi merupakan campuran antara demokrasi dengan
monarki. Hal ini karena monarki terlalu banyak kelaliman dan demokrasi terlalu banyak kebebasan (Bertens, 1998: 124).
Semua karya yang ditulis Plato merupakan
dialog-dialog, kecuali surat-surat dan Apologia, Plato memilih dialog sebagai
bentuk sastra karena pengaruh ajaran Sokrates. Sokrates tidak mengajar, tetapi
mengadakan tanya jawab dengan kawan-kawan sekota Athena. Plato meneruskan
keaktifan Sokrates dengan mengarang dialog-dialog. Dialog-dialog Plato dapat
dibagi atas 3 periode:
1)
Apologia,
Kriton, Eutyphron, Lakhes, Kharmides, Lysis, Hippias, Minor, Menon, Gorgias,
Protagoras, Euthydemos, Kratylos, Phaidon, Symposion (beberapa ahli menyangka
bahwa salah satu dari dialog-dialog ini sudah ditulis sebelum kematian
Sokrates, tetapi kebanyakan berpikir bahwa dialog pertama ditulis tidak lama
sesudah kematian Sokrates).
2)
Politea,
Phaidros, Parmenides, Theaitetos (Parmenides dan Theaitetos ditulis tidak lama sebelum perjalanan kedua ke
Silsilia, tahun 367).
3)
Sophistes,
Politikos, Philebos, Timaios, Kritias, Nomoi (dialog-dialog ini ditulis sesudah perjalanan ketiga
ke Silsilia) (Bertens, 1998: 123).
c.
Sumbangan
Pemikiran Filsafat Plato terhadap Perkembangan Kurikulum
1)
Tujuan Pembelajaran
Membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Oleh
karena itu kebenaran-kebenaran itu universal dan konstan, maka
kebenaran-kebenaran tersebut hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang
murni. Kebenaran-kebenaran hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui:
a)
Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran, dan
b)
Latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spiritual.
Selain itu, tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar
akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan (Anonim,
2012).
2)
Kurikulum yang Dikembangkan
Era Yunani sendiri,
ada 2 pendidikan yang berkembang, yaitu Disparta dan Paidea. Disparta
merupakan pendidikan ala militer yang disebut juga Agoge. Sistem pendidikan
ini menekankan pada aspek fisik dan pendisiplinan. Sangat mirip dengan
sekolah-sekolah militer pada saat ini. Disparta sendiri
berkembang di Romawi. Sedangkan Paidea berkembang di Athena.
Sistem pendidikan ini menitikberatkan pada perpaduan antara pendidikan nalar (mind),
raga (body), dan jiwa (spirit). Ketiga hal tersebut dilatih
melalui logos, atau biasa disebut logika atau penalaran. Logos sendiri
bermakna nalar atau firman. Konsep ini banyak dikembangkan oleh Plato dan
Aristoteles.
Pendidikan raga
sendiri menitikberatkan pada olah raga atau Gimnastik. Sedangkan
pendidikan jiwa diasah melalui musik dan puisi. Capaian ideal sistem
pendidikan Paidea adalah Kalos Kagathos, yang
berarti manusia indah luar maupun dalam. Capaian ini berfungsi agar manusia
mampu melihat Arete (keutamaan) dalam kompleksitas kehidupannya.
Keutamaan manusia sendiri antara lain diwujudkan dalam Virtue, atau
nilai-nilai kebaikan dalam moral, seperti kebijaksanaan, keberanian, dan
kejujuran.
Selanjutnya, Virtue ini
syarat untuk manusia mencapai Eudaimonia atau kebahagiaan.
Karena, di alam Yunani, untuk bahagia, manusia harus mengaktifkan penalarannya.
Dengan kata lain, seorang manusia akan bahagia bila berperilaku baik, dan dia
akan berperilaku baik bila bernalar. Hal ini memang sangat bertolak
belakang sekali dengan tradisi-tradisi spiritual yang justru mensyaratkan
penonaktifan nalar.
Paidea sendiri
dikembangkan oleh kaum Sofis. Kaum ini banyak menggunakan retorika dalam
kehidupan sehari-harinya. Hal ini disebabkan kaum Sofis memiliki kehidupan yang
berkonteks politis. Sehingga perdebatan dalam kehidupan politik mensyaratkan
argumen-argumen semu untuk menjatuhkan lawannya. Bagaimana pun, dalam konteks
kehidupan politik, kuncinya adalah memenangkan perdebatan. Beberapa tokoh yang
termasuk kaum Sofis adalah Isokrates dan Protagoras.
Kaum Sofis sendiri
kerap menuai kritik dari lawannya, yaitu kaum Akademia. Meskipun begitu, Paidea banyak
dimodifikasi dan dikembangkan oleh kaum Akademia seperti Plato dan Aristoteles,
tentunya dengan penekanan yang berbeda untuk masing-masing tokoh. Dari
modifikasi kaum Akademia, kurikulum Paidea berevolusi sehingga
lebih gampang diingat. Pada Abad Pertengahan, kurikulum Paidea berevolusi
menjadi kurikulum Artes Liberales yang berarti “pengetahuan yang
penting untuk orang-orang bebas”. Pengetahuan ini ditujukan untuk bangsawan dan
orang-orang kelas atas. Lawannya adalah Artes Serviles atau
“keterampilan untuk para budak”. Pengetahuan ini erat kaitannya dengan
keterampilan kasar untuk para budak seperti pandai besi dan memotong kayu.
Artes Liberales dibagi menjadi
2 kelompok utama. Kelompok ilmu pertama terdiri dari ilmu Rhetorica,
Grammatica, dan Logica. Kelompok ini disebut Trivium.
Sedangkan kelompok ilmu kedua terdiri dari ilmu Arithmatica, Geometrica,
Astronomica, dan Musica. Selain 2 kelompok utama ilmu di
atas, ada juga tambahan ilmu lainnya, antara
lain: Ars Dictaminis atau ilmu pembuatan dokumen-dokumen hukum
dan administratif, kedokteran yang banyak mendapat pengaruh dari Ibnu Sina,
hukum, dan sains atau ilmu penelitian empirik. Khusus untuk sains, ilmu ini
belum berkembang ketika masa Artes Liberales. Sains sendiri baru
berkembang pada abad ke-13, tepatnya ketika mulai ada lembaga pendidikan tinggi
yang disebut Universitas. Plato banyak memberikan penekanan pada Logica, Arithmatica,Geometrica, Astronomica,
dan Musica (Yudha, 2012).
3)
Proses Pembelajaran
Tuntutan tertinggi dalam
belajar menurut Perenialisme, adalah latihan dan disiplin mental. Maka, teori
dan praktik pendidikan haruslah mengarah kepada tuntunan tersebut. Teori dasar
dalam belajar menurut Perenialisme terutama:
a)
Mental Disiplin sebagai
Teori Dasar
Menurut Perenialisme
sependapat latihan dan pembinaan berpikir adalah salah satu kewajiban tertinggi
dalam belajar, atau keutamaan dalam proses belajar. Karena program pada umumnya
dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.
b)
Rasionalitas dan Asas
Kemerdekaan
Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan,
otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan
pendidikan hendaknya membantu manusia untuk dirinya sendiri yang membedakannya
dari makhluk yang lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan itu, yaitu
aktualisasi diri manusia sebagai makhluk rasional yang bersifat merdeka.
c)
Learning to Reason (Belajar untuk Berpikir)
Bagaimana tugas berat ini dapat dilaksanakan, yakni belajar supaya mampu
berpikir. Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam
permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan
landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi
tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
d)
Belajar sebagai Persiapan Hidup
Belajar
untuk mampu berpikir bukanlah semata – mata tujuan kebajikan moral dan
kebajikan intelektual dalam rangka aktualitas sebagai filosofis. Belajar untuk
berpikir berarti pula guna memenuhi fungsi practical philosophy baik etika,
sosial politik, ilmu dan seni.
e)
Learning Through
Teaching
Dalam pandangan Perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia
dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses
belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi–potensi self discovery,
dan ia melakukan otoritas moral atas murid-muridnya, karena ia seorang
profesional yang memiliki kualifikasi dan superior dibandingkan
dengan murid-muridnya. Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih (Anonim,
2012).
4)
Hasil Belajar Siswa
Plato membangun akademia Plato. Dengan adanya akademia Plato dengan sendirinya konsentrasi lokasi belajar
bisa terfokus dan diskusi bisa intens dan terkontrol mungkin bisa sama dengan
perguruan tinggi tapi disini tidak terjadi proses secara kaku. Kemudian semua yang
akan masuk kesana (akademia) harus memenuhi syarat pengetahuan bukan syarat
material, yakni memahami ilmu berhitung atau matematika dasar dari Pytagoras
dan jenis-jenis pengetahuan berhitung dizamannya. Ini mengindikasikan pertama
keseriusan sang penuntut ilmu karena disertai syarat dalam proses belajar.
Di sini juga menegaskan indikator
pengetahuan dan orientasi pendidikan lebih jelas dan konsisten. Pendidikan yang
memiliki syarat apalagi syarat pengetahuan merupakan karakter pendidikan
berorientasi ke masa depan. Kemudian dia akan benar-benar belajar saat masuk ke akademia sebab proses masuknya
butuh proses panjang. Orang yang masuk dalam lembaga pendidikan dengan proses
yang sulit akan menghargai proses itu dengan keseriusan belajar.
Selain itu, dia sudah
memiliki landasan pengetahuan dengan sendirinya proses belajar dan interkasi
pengetahuan terjadi dengan muda. Dengan adanya pondasi dasar pengetahuan
terjadi interaksi pengetahuan lebih kondusif, peserta didik akan muda menangkap
penyampaian karena karakter dasar ilmu filsafat yakni logika, ilmu yang
mengedepankan perhitungan dan silogisme sudah terpenuhi (Anonim, 2016).
3.
Zaman Aristoteles (384 SM-322 SM)
a.
Riwayat Hidup
Aristoteles adalah seorang filsuf, ilmuwan,
sekaligus pendidikan Yunani. Ia dilahirkan di Stagirus, Makedonia, pada tahun
384 SM dan tutup usia di Chalcis Yunani pada tahun 322 SM. Ayahnya bernama
Nicomachus, seorang dokter di Istana Amyntas III, raja Makedonia, kakek
Alexander Agung. Tapi pada waktu Aristoteles berumur 15 tahun, ayahnya
meninggal dunia. Aristoteles lalu dipelihara oleh Proxenus, saudara ayahnya
(Wikipedia, 2015).
Pada
usia 17 tahun Aristoteles pergi ke Athena di mana selama 10 tahun berikutnya
(tahun 367-345 SM) ia belajar pada Akademi Plato. Ia segera ditunjuk untuk
membacakan karangan-karangan ahli filsafat besar tersebut kepada para siswa
yang lain sebagai seorang asisten, dan pada akhirnya mulai menulis karya-karya
sendiri dengan menggunakan catatan-catatan tentang kuliah-kuliah Plato dan
mengkritik beberapa dari kuliah-kuliah tersebut. Tidak lama setelah
meninggalnya Plato (tahun 347 SM) Aristoteles mengadakan perjalanan ke Istana
Hermias, seorang bekas budak dan siswa pada Akademi tersebut yang telah menjadi
penguasa Yunani di Artaneus dan Assos, Asia kecil, dan ia telah mengawini
seorang anggota keluarga Hermias. Dalam tahun 341 SM Hermias telah
dieksekusi oleh orang-orang Parsi karena berkomplot dengan Philip II
mengundangnya ke Istana di Pella untuk mengajar putranya Alexander yang berusia
13 tahun, kemudian terkenal dalam sejarah sebagai Alexander Agung. Philip telah
menghancurkan kota kelahiran Aristoteles Stagira dalam tahun 348 SM, tetapi
telah memperbaikinya kembali atas permintaan Aristoteles yang menulis suatu konstitusi
baru bagi kota tersebut. Dalam tahun 336 SM Philip dibunuh, dan Alexander
menggantikannya.
Aristoteles kembali ke Athena saat Alexander
berkuasa pada tahun 336 SM. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia
kemudian mendirikan Akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang
dipimpinnya sampai tahun 323 SM. Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander
menjadikan dirinya harus kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas
sebagaimana dulu dialami Socrates. Aristoteles
meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut. Aristoteles sangat menekankan
empirisme untuk menekankan pengetahuan (Abidin,
2011: 140).
Pada tahun 342 SM, ia kembali ke
Makedonia untuk menjadi pendidik Pangeran Aleksander yang Agung. Setelah
Aleksander menjadi Raja, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan sekolah
di sana. Pada tahun 323 SM Alexander wafat timbullah huru-hara di Athena
menentang Makedonia. Karena Aristoteles dituduh sebagai mendurhaka, maka ia
lari ke Khalkes, tempat ia meninggal dunia pada tahun berikutnya (Hadiwijono,
1980: 45).
Aristoteles adalah ahli filsafat terbesar
didunia sepanjang zaman. Ia sering disebut bapak peradaban barat, bapak
ensiklopedi, bapak ilmu pengetahuan atau gurunya para ilmuwan. Ia menemukan
logika (ilmu mantik, seperti pengetahuan tentang cara berpikir dengan baik,
benar dan sehat). Ia menemukan biologi, fisika, botani, astronomi, kimia, meteorologi,
anatomi, zoology, embriologi dan psikologi eksperimental. Meskipun sudah 2.000
tahun lebih, istilah-istilah ciptaan Aristoteles masih dipakai sampai hari ini,
misalnya informasi, relasi, energi, kuantitas, individu, substansi, materi,
esensi dan sebagainya (Abidin,
2011: 140).
Dalam
pergaulan tingkat atas, ia lebih berhasil dari Plato. Ia pernah menjadi tutor
(guru) Alexander. Alexander merupakan putra Philip Makedonia, seorang diplomat
yang ungul dan jenderal yang terkenal. Sebagai tutor dari Alexander,
Aristoteles mempunyai pengaruh yang besar terhadap sejarah dunia. alexander
tidak hanya menerima seluruh idea dan rencananya, lebih dari itu juga pola
pikirnya. Antara tahun 335-340 SM Aristoteles menekuni riset di Stagira, yang
dibantu oleh Theophratus yang juga alummnus Athena. Riset yang intensif
tersebut dibiayai oleh Alexander dan menghsilkan kemajuan dalam sains dan
filsafat (Kattsoff, 2004: 134).
b.
Ajaran dan Karya Kefilsafatannya
Hasil karya
Aristoteles banyak sekali. Akan tetapi sulit menyusun karyanya itu secara
sistematis. Berbeda-beda cara orang membagi-bagikannya. Ada psikologi, biologi,
metafisika, etika, politik dan ekonomi, dan akhirnya retorika dan poetika. Ada
juga orang yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles meliputi 3 tahap,
sebagaimana yang telah tertera dalam buku Hadiwijono
(1980: 45), yaitu:
1)
tahap di Akademi, ketika ia masih setia kepada
gurunya, Plato, termasuk ajaran Plato tentang idea.
2)
tahap ia di Assos, ketika ia berbalik dari Plato,
mengritik ajaran Plato tentang ide-ide serta menentukan filsafatnya sendiri.
3)
tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu ia
berbalik dari spekulasi ke penyelidikan empiris, mengindahkan yang kongkret dan
yang individual. Asal pembagian ini tidak diterapkan secara konsekuen, tapi diperkirakan
dapat dicapai juga.
Pemikiran
kefilsafatan memiliki ciri-ciri khas (karateristik) tertentu, sebagian besar
filosof berbeda pendapat mengenai karateristik pemikiran kefilsafatan. Apabila
perbedaan pendapat tersebut dipahami secara teliti dan mendalam, maka
karateristik pemikiran kefilsafatan tersebut terdiri dari:
1) Menyeluruh,
artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi beberapa sudut pandang.
Pemikiran kefilsafatan, meliputi beberapa cabang ilmu, dan pemikiran semacam
ini ingin mengetahui hubungan antara cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya.
Integralitas pemikiran kefilsafatan juga memikirkan hubungan ilmu dengan moral,
seni dan pandangan hidup.
2) Mendasar,
artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang fundamental (keluar dari gejala).
Hasil pemikiran tersebut dapat dijadikan dasar berpijak segenap nilai dan
masalah-masalah keilmuan (science).
3) Spekulatif,
artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran
selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan garapan
(objek) yang baru pula. Keadaan ini senantiasa bertambah dan berkembang
meskipun demikian bukan berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan,
karena tidak pernah selesai seperti ilmu-ilmu diluar filsafat.
Achmadi (1995: 55-59)
menjelaskan bahwa salah satu karya Aristoteles yang paling menonjol adalah
penelitian ilmiah. Ketika ia merantau ke sekitar pantai Asia kecil, dengan
menggunakan segala fasilitas yang disediakan Hermeias, ia mulai melakukan
penelitian mengenai zoology, biologi dan botani. Penelitian itu dilanjutkan ke
daerah lain sesudah ia mendirikan Lyceum di Athena dengan menggunakan fasilitas
yang disediakan oleh Alexander yang agung. Aristoteles juga mengadakan
penelitian terhadap konstitusi dan sistem politik. Karya-karya Aristoteles
berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut:
1) Logika,
terdiri dari:
a) Categoriac (kategori-kategori)
b) De interpretatione (perihal penafsiran)
c) Analytics Priora (analitika logika yang lebih dahulu)
d) Analytica Posteriora (analitika logika yang kemudian)
e) Topica
f) De Sophistics Elenchis (tentang cara berargumentasi kaum Sofis)
2) Filsafat
Alam, terdiri dari:
a) Phisica
b) De caelo (perihal langit)
c) De generatione et corruption (timbul-hilangnya makhluk-makhluk
jasmani)
d) Metereologica (ajaran tentang badan-badan jagat raya)
3) Psikologi,
terdiri dari:
a) De anima (perihal jiwa)
b) Parva naturalia (karangan-karangan kecil tentang pokok-pokok alamiah)
4) Biologi,
terdiri dari:
1) De partibus animalium (perihal bagian-bagian binatang)
2) De mutu animalium (perihal gerak binatang)
3) De incessu animalium (tentang binatang yang berjalan)
4) De generatione animalium (perihal kejadian binatang-binatang)
5) Metafisika,
oleh Aristoteles dinamakan sebagai filsafat pertama atau theologia
6) Etika,
terdiri dari:
a) Ethica Nichomacea
b) Magna moralia (karangan besar tentang moral)
c) Ethica Eudemia
7) Politik
dan ekonomi, terdiri dari:
a) Politics
b) Economics
8) Retorika
dan poetica
a) Rhetorica
b) Poetica
Pemikiran
filsafat Aristoteles dituangkan dalam beberapa ajarannya yang terdiri dari:
1) Ajarannya
tentang Logika
Logika
tidak dipakai oleh Aristoteles, ia memakai istilah analitika. Istilahlogika
pertama kali muncul pada abad pertama Masehi oleh Cicero, artinya seni
berdebat. Kemudian, Alexander Aphrodisias adalah orang pertama yang memakai
kata logika yang artinya ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Menurut
Aristoteles, berpikir harus dilakukan dengan bertitik tolak pada
pengertian-pengertian sesuatu benda. Suatu pengertian memuat dua golongan yaitu
substansi (sebagain sifat yang umum), dan aksidensia (sebagai sifat yang secara
tidak kebetulan). Dari dua golongan tersebut terurai menjadi sepuluh macam
kategori, yaitu: (Achmadi, 1995: 55-59).
a) Substansi
(misal: manusia, binatang)
b) Kuantitas
(dua, tiga)
c) Kualitas
(merah, baik)
d) Relasi
(rangkap, separuh)
e) Tempat
(di rumah, di pasar)
f) Waktu
(sekarang, besok)
g) Keadaan
(duduk, berjalan)
h) Mempunyai
(berpakaian, bersuami)
i)
Berbuat (membaca, menulis)
j)
Menderita (terpotong, tergilas). Sampai
sekarang Aristoteles di anggap sebagai bapak logika tradisional.
2) Ajarannya
tentang Silogisme
Menurut
Aristoteles, pengetahuan manusia hanya dapat dimunculkan dengan dua cara, yaitu
deduksi dan induksi. Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak pada
hal-hal yang khusus untuk mencapai kesimpulan yanmg bersifat umum. Sementara
itu, deduksi adalah proses berpikir yang bertolak pada dua kebenaran yang tidak
diragukan lagiuntuk mencapai kesimpulan menuju kebenaranyang ketiga. Menurut
pendapatnya, deduksi ini merupakan jalan yang baik untuk melahirkan pengetahuan
baru. Berpikir deduksi yaitu silogisme, yang terdiri dari premis mayor dan
premis minor dan kesimpulan. Perhatikan contoh berikut: (Achmadi, 1995: 55-59).
a) Manusia
adalah makhluk hidup (premis mayor)
b) Jamroni
adalah manusia (premis minor)
c) Jamroni
adalah makhluk hidup (kesimpulan)
3) Ajarannya
tentang pengelompokkan ilmu pengetahuan
Aristoteles
mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan dalam buku Achmadi (1995: 55-59), yaitu:
a) Ilmu
pengetahuan praktis (etika dan politik)
b) Ilmu
pengetahuan produktif (teknik dan kesenian)
c) Ilmu
pengetahuan teoritis (fisika, matematika dan metafisika)
4) Ajarannya
tentang Aktus dan Potensia
Mengenai
realitas atau yang ada, Aristoteles tidak sependapat dengan gurunya Plato yang
mengatakan bahwa realitas itu ada pada dunia ide. Menurut Aristoteles, yanga
ada itu berada pada hal-hal yang khusus dan konkret. Dengan kata lain, titik
tolak ajaran atau pemikiran filsafatnya adalah ajaran Plato tentang ide.
Realitas yang sungguh-sungguh ada bukanlah yang umum dan yang tetap seperti
yang dikemukakan Plato, tetapi realitas terdapat pada yang khusus dan yang
individual. Keberadaan manusia bukan di dunia ide, tetapi manusia berada yang
satu-persatu. Dengan demikian, realitas itu terdapat pada yang konkret, yang
bermacam-macam, yang berubah-ubah. Itulah realitas yang sesungguhnya (Achmadi, 1995: 55-59).
Mengenai
hule dan morfe, bahwa yang disebut sebagai hule adalah suatu unsur yang menjadi dasar permacaman. Sementara
itu, morfe adalah unsur yang menjadi
dasar kesatuan. Setiap benda yang konkret terdiri dari hule dan morfe. Misalnya,
es batu dapat dijadikan es teh, es sirup, es jeruk, dan es teh tentu akan lain
dengan es jeruk karena morfenya.
Jadi, hule dan morfe tidak terpisahkan (Achmadi, 1995: 55-59).
5) Ajarannya
tentang Pengenalan
Menurut
Aristoteles, terdapat dua macam pengenalan, yaitu pengenalan indrawi dan
pengenalan rasional. Dengan pengenalan indrawi kita hanya dapat memperoleh
pengetahuan tentang bentuk benda (bukan materinya) dan hanya mengenal hal-hal
yang konkret. Sementara itu, pengenalan rasional kita akan dapat memperoleh
pengetahuan tentang hakikat dari sesuatu benda. dengan pengenalan rasional ini
kita dapat menuju satu-satunya untuk ke ilmu pengetahuan. Cara untuk menuju ke
ilmu pengetahuan adalah dengan teknik abstraksi. Abstraksi artinya melepaskan
sifat-sifat atau keadaan yang secara kebetulan, sehingga tinggal sifat atau
keadaan yang secara kebetulan yaitu intisari atau hakikat suatu benda (Achmadi,
1995: 55-59).
6) Ajarannya
tentang Etika
Aristoteles
mempunyai perhatian yang khusus tterhadap masalah etika. Karena etika bukan
diperuntukkan sebagai cita-cita, akan tetapi dipakai sebagai hukum kesusilaan.
Menurut pendapatnya, tujuan tertinggi hidup manusia adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah suatu keadaan dimana segala sesuatu yang termasuk dalam
keadaan bahagia telah berada dalam diri manusia. Jadi, bukan sebagai
kebahagiaan subjektif. Kebahagiaan harus sebagai suatu aktivitas yang nyata,
dan dengan perbuatannya itu dirinya semakin disempurnakan. Kebahagiaan manusia yang
tetinggi adalah berpikir murni (Achmadi, 1995: 55-59).
7) Ajarannya
tentang Negara
Menurut
Aristoteles, Negara akan damai apabila rakyatnya juga damai. Negara yang paling
baik adalah Negara dengan system demokrasi moderat, artinya sistem demokrasi
yang berdasarkan Undang-undang Dasar (Achmadi, 1995:
55-59).
c.
Sumbangan Aristoteles terhadap
Pengembangan Kurikulum
Aristoteles
memberikan banyak sumbangan dalam beberapa disiplin ilmu seperti pada bidang
metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran dan ilmu alam. Meskipun tugasnya
mendidik Alexander telah usai, namun keuntungannya tidak berhenti begitu saja.
Alexander membantu mantan gurunya tersebut dengan membiayai
eksperimen-eksperimen yang dilakukan Aristoteles.
Aristoteles
adalah ahli filsafat terbesar didunia sepanjang zaman. Ia sering disebut bapak
peradaban barat, bapak ensiklopedi, bapak ilmu pengetahuan atau gurunya para
ilmuwan. Ia menemukan logika (ilmu mantik: pengetahuan tentang cara berpikir
dengan baik, benar dan sehat). Ia menemukan biologi, fisika, botani, astronomi,
kimia, meteorologi, anatomi, zoologi, embriologi dan psikologi eksperimental.
Meskipun sudah 2.000 tahun lebih, istilah-istilah ciptaan Aristoteles masih
dipakai sampai hari ini, misalnya: informasi, relasi, energi, kuantitas, individu,
substansi, materi, esensi dan sebagainya (Hart, 1978: 122).
1)
Tujuan
Pembelajaran
Aristoteles (filosof
terbesar Yunani, guru Iskandar Makedoni, yang dilahirkan pada tahun 384 SM-322
SM) mengatakan bahwa: “Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk pengajaran” (Hart, 1978:
123).
Cita-cita pendidikan Aristoteles adalah kebajikan itu diperoleh
dengan jalan aman, melalui pengalaman, pembiasaan-pembiasaan, akal budi, dan
pengertian. Pendidik harus mempelajari dan memimpin pembawaan dan kecendrungan anak-anak.
Dengan latihan dan pembiasaan mereka diajarkan melakukan perbuatan yang baik
dan meninggalkan yang buruk. Menurut Aristoteles sumber pengetahuan adalah
pengalaman, pengamatan, yang menghasilkan bahan untuk berpikir. Dalam satu hal
ia sefaham dengan J.Locke bahwa jiwa seseorang pada waktunya diahirkan tidak
berisi apa-apa (tabula rasa) (Hart, 1978: 123).
Pendidikan formal menurut
Aristoteles berakhir pada usia 21 tahun, dan periode ini terbagi menjadi
4 bagian yaitu:
a)
Pendidikan s/d usia 5 tahun
b)
Pendidikan s/d usia 7 tahun
c)
Pendidikan s/d usia pubertas
d)
Pendidkan s/d usia 21 tahun. Sebelum
usia 5 tahun hendaknya pendidikan bersifat sewajarnya, disesuaikan dengan
keadaan anak, seperti membaca, menulis, berhitung, musik yang di anggap sebagai
mata pelajaran untuk latihan kejiwaan (Hart, 1978: 123).
Teori-teori yang dicetuskannya menjadi referensi bagi
generasi-generasi penerusnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Hasil
pemikirannya merupakan buah yang luar biasa bermanfaat dalam ilmu pengetahuan
(Wikipedia, 2015).
Aristoteles menempatkan filsafat dalam suatu skema yang utuh untuk
mempelajari realitas. Studi tentang logika atau pengetahuan tentang penalaran,
berperan sebagai organon (alat) untuk sampai kepada pengetahuan yang lebih
mendalam, untuk selanjutnya diolah dalam theoria yang membawa kepada praxis.
Aristoteles mengawali, atau sekurang-kurangnya secara tidak langsung mendorong,
kelahiran banyak ilmu empiris seperti botani, zoologi, ilmu kedokteran, dan
tentu saja fisika. Ada benang merah yang nyata, antara sumbangan pemikiran
dalam Physica (yang ditulisnya), dengan Almagest (oleh Ptolemeus), Principia
dan Opticks (dari Newton), serta Experiments on Electricity (oleh Franklin),
Chemistry (dari Lavoisier), Geology (ditulis oleh Lyell), dan The Origin of
Species (hasil pemikiran Darwin). Masing-masing merupakan produk refleksi para
pemikir itu dalam situasi dan tradisi yang tersedia dalam zamannya
masing-masing (Wikipedia, 2015).
Tujuan terakhir dari filsafat ialah pengetahuan tentang adanya yang
umum. Dia juga berkeyakinan bahwa kebenaran yang sebenarnya hanya dapat di
capai dengan jalan pengertian. Gagasan Aristoteles tentang keterkaitan antara
filsafat dengan ilmu-ilmu lainnya belum terkupas dengan sempurna karna ia harus
menghadap panggilan dewa dalam kehidupan rasional yang mistik. Ia terebih
dahulu meninggal dunia sebelum cita-cita filosofis nya terungkap dengan
maksimal (Raharjo, 2000: 105).
2)
Kurikulum
yang Dikembangkan
Smith
(1986: 40) menjelaskan Aristoteles berkata bahwa negara sebaiknya memberikan
pendidikan yang baik bagi semua anak-anak. Serta mempunyai suatu sistem sekolah
negeri yang wajib bagi putra-putra semua warga negara, tetapi sistem tersebut
terdiri dari pendidikan fisik dan latihan militer. Usul Aristoteles tentang
pendidikan umum yang universal dalam kesenian dan ilmu pengetahuan tidak
terlaksana secara luas sehingga dua ribu tahun kemudian, ketika dalam abad
ke-16 dan abad ke-17, sistem-sistem sekolah nasional secara bertahap didirikan
di Jerman dan negeri-negeri Eropa lainnya. Tetapi, usulnya itu tidak
diperuntukkan bagi negara-negara besar atau kekaisaran, tetapi bagi
negara-negara kota seperti Athena yang dipandangnya sebagai suatu lingkungan
yang ideal. Dalam pandangannya, pendidikan universal sebaiknya mencakup olahraga,
senam, musik, kesusateraan, ilmu pengetahuan, dan latihan moral. Pendidikan
tersebut mungkin saja memasuki dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri, saat
ini di lembaga-lembaga pendidikan juga telah memasukkan mata pelajaran
olahraga, ilmu pengetahuan, maupun kesusateraan dalam kurikulum. Sedangkan
musik, dan latihan moral bisa diterapkan saat kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Dalam
rangka pendidikan yang lebih tinggi, ia nampaknya setuju dengan Plato tentang
nilai-nilai matematika, fisika, astronomi, dan filsafat. Ia menyatakan bahwa
putera-putera semua warga negara sebaiknya diajar sesuai dengan kemampuan
mereka, suatu pandangan yang sama dengan doktrin Plato tentang perbedaan
individual. Disiplin merupakan hal yang eesensial untuk mengajar para pemuda dan
kaum lelaki muda untuk mematuhi perintah-perintah dan mengendalikan gerak hati
mereka. Dengan belajar menaati, mereka akan belajar bagaimana caranya untuk
memberikan perintah-perintah yang dapat dibenarkan dan untuk memerintah
orang-orang lain. Mereka dapat diajar untuk menggunakan retorika untuk
menghimbau dan membangkitkan semangat orang lain, dan juga untuk memberitahukan
kepada mereka, asalkan mereka berbuat demikian untuk tujuan yang baik. Bagi
semua pelajar, Aristoteles menggambarkan tentang idealisme yang tinggi,
ketekunan, pengamatan, dalam yang cermat dan berpikir secara lugas untuk
mendorong berpikir lugas (diharuskan menemukan kebenaran yang tak logos, salah
atau kontradiktif dari fakta-fakta atau observasi-observasi). Aristoteles
mendirikan ilmu pengetahuan tentang logika (ia menyebutnya analitik) yang
mengemukakan prinsip-prinsip penalaran yang benar.
Burhanuddin (2013) menjelaskan bahwa Aristoteles telah melahirkan
banyak teori selama 62 tahun hidupnya, bahkan beberapa teori atau pemikirannya
masih diaplikasikan hingga saat ini. Berikut beberapa teori atau pemikiran dari
Aristoteles:
a) Ilmu alam
Dalam ilmu alam, Aristoteles memberikan
sumbangan beberapa teori. Berikut beberapa kontribusi Aristoteles dalam ilmu
alam:
(1) Aristoteles
dikenal sebagai orang pertama yang mengumpulkan dan mengelompokkan
spesies-spesies dalam ilmu biologi secara sistematis.
(2) Aristoteles
adalah orang yang pertama kali membuktikan bahwa bumi itu bulat. Ia membuktikan
hal tersebut dengan cara melihat gerhana.
(3) Aristoteles
menulis tentang astronomi, zoologi, embryologi, geografi, geologi, fisika,
anatomi, physiologi, dan hampir tiap karyanya dikenal di masa Yunani purba
(4) Aristoteles
menyampaikan teori yang bertentangan dengan Plato. Ia menyampaikan bahwa semua
benda bergerak menuju satu tujuan dan benda itu harus ada penggeraknya,yaitu
Theos (Tuhan). Teori yang disampaikan oleh Aristoteles ini mengandung
unsur teleologis atau ketuhanan.
b)
Filsafat
Sebagai
bapak ilmu pengetahuan sekaligus filusuf yang ternama pada masa itu,
Aristoteles banyak sekali mengemukakan teori-teori mengenai filsafat. Menurut
Aristoteles filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung
didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
Berikut adalah teori-teori yang disampaikan
oleh Aristoteles mengenai filsafat:
(1) Aristoteles mengklasifikasikan filsafat menjadi
beberapa bagian yaitu:
(a)
Logika yaitu tentang bentuk susunan
pikiran.
(b)
Filosofia teoritika
(c)
Filosofia praktika, tentang hidup
kesusilaan (berbuat)
(d)
Filosofia poetika/aktiva (pencipta)
(2)
Aristoteles menegaskan bahwa ada dua
cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran
baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode
rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang
berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu.
Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang
filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir. Contoh silogisme:
(a) Semua binatang mamalia pasti menyusui (premis
mayor)
(b) Kucing adalah binatang mamalia (premis minor)
(c) Kucing pasti menyusui (kesimpulan)
Silogisme
sering kita temui dalam pelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP dan SMA. Hal
in i menunjukkan bahwa teori yang dikemukakan oleh Aristoteles hingga saat ini
masih diaplikasikan oleh umat manusia.
Selain
teori silogisme, Aristoteles juga mengemukakan mengenai teori Hilemorfisisme
(berdasarkan kata yunani Hyle dan morphe). Teori ini menyatakan
bahwa bila manusia mati dapat disimpulkan maka jiwanya pun mati. Aristoteles
pula yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial , dimana manusia tidak
dapat hidup sendiri, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Pernyataan ini
terus diterapkan oleh manusia hingga saat ini. Teori ini membuat manusia
menyadari bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan suatu kewajiban
mengingat mereka akan saling membutuhkan.
Aristoteles
mencetuskan kalimat-kalimat yang menakjubkan, diantaranya “Kemiskinan adalah
bapaknya revolusi dan kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi
dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium
tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” Hal ini tentu saja menjadi luar
biasa karena pada waktu itu, pada abad Aristoteles hidup, belum terdapat
sekolah seperti pada saat sekarang ini. Begitu hebatnya pemikiran Aristoteles
sehingga apa yang belum ada pada masanya ternyata dapat Ia cetuskan hingga
dapat dibuktikan pada masa sekarang.
c) Ilmu politik
Dalam
ilmu politik, Aristoteles menyampaikan teorinya bahwa sistem pemerintahan yang
ideal merupakan gabungan dari sistem pemerintahan demokrasi dan monarki.
d) Bahasa
Dalam
bidang bahasa Aristoteles menemukan Sepuluh jenis kata yang dikenal orang saat
ini seperti. Kata kerja, kata benda, kata sifat dan sebagainya merupakan
pembagian kata hasil pemikirannya. Selain itu, terdapat istilah-istilah ciptaan
Aristoteles yang masih digunakan hingga saat ini, diantaranya “Informasi,
relasi, energi, kuantitas, kualitas, individu, substansi, materi, esensi, dan
lain-lain”.
e) Seni
Aristoteles
menuangkan pemikirannya mengenai seni dengan menulis sebuah buku berjudul Poetika.
Ia mengemukakan bahwa pengetahuan dibangun dari pengamatan dan penglihatan.
Dalam wikipedia disebutkan bahwa menurut Aristoteles keindahan menyangkut
keseimbangan ukuran yakni ukuran material. Menurut Aristoteles sebuah karya
seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai
dengan estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang
dicurahkan ke luar. Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif. Dorongan
normatif yang dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada
perasaan tersebut. Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan
(Burhanuddin, 2013).
Aristoteles
mengemukakan pembagian yang lebih terperinci bila dibandingkan dengan Plato,
yaitu sebagai berikut:
a) Logika yaitu tentang bentuk susunan pikiran.
Aristoteles mengatakan bahwa dasar dari semua argumen adalah Silogisme. kemudian
Aristoteles mendaftar semua Silogisme yang mungkin, dan menunjukkan mana yang
sahih mana yang tidak. Logika merupakan alat untuk mempertajam pencarian
pengetahuan.
b) Filosofia teoritika yang diperinci atas:
(1)
Fisika
yaitu tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya).
(2)
Matematika
yaitu tentang barang menurut kuantitasnya.
(3)
Metafisika
yaitu tentang “ada”. Usaha Aristoteles disini menghasilkan suatu teori
tandingan terhadap forma-forma Plato. Seperti Plato, ia menolak relativisme
sophis seperti reletivisme Protagoras, tetapi merasa bahwa forma-forma tidak
menyebabkan perubahan,dan tidak membantu memahami apa yang nyata dan apa yang
dapat diketahui. Bahkan ia mengusulkan bahwa subtansi merupakan senyawa dari
Materia dan Forma. Untuk menerangkan perubahan, Aristoteles menggunakan ide-ide
aktualis dan potensialitas. Subtansi merupakan pembawa potensial
kualitas-kualitas yang menjadi nyata(aktual) didalamnya. Maka, mengatakan bahwa
minyak dapat dibakarberarti bahwa potensinya untuk terbakar sudah ada didalamnya,
tetapi membutuhkan korek api untuk menghasilkan kemungkinan itu benar-benar
terbakar.
c) Filosofia praktika yaitu tentang hidup
kesusilaan (berbuat,bertindak)
(1) Etika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup
perseorangan. Aristoteles mempunyai ajaran mengenai jiwa yang lebih monistik
daripada Plato.
(2) Ekonomia yaitu tentang kesusilaan dalam hidup
kekeluargaan.
d) Politika yaitu tentang kesusilaan dalam hidup
kenegaraan. Aristoteles tidak melampaui negara-kota model Plato. Ketika
kekaisaran surut, ia bebicara mengenai sempurnanya sebuah kota yang tidak lebih
dari pada yang bisa dilihat sekilas dari atas bukit. Rumusannya mengenai
stabilitas politik sangatlah bernada kelas menengah, untuk menciptakan jalan
tengah antara tirani dan demokrasi. Aristoteles tidak melawan perbudakan dan
berpendapat bahwa wanita tidak cocok untuk hak-hak bebas dan politik. Tetapi ia
memang punya kehendak untuk membebaskan budak-budaknya.
e) Biologi. Dalam penyelidikan Aristoteles yang
mendalam, ia menunjukkan lebih dari 500 spesies berbeda. Ia menekankan
penyelidikan atas dasar hal-hal partikuar.
f) Filosofia poetika/aktiva (pencipta/filsafat
kesenian). Pembagian ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan pada saat itu, jadi
apa yang sekarang dipandang termasuk ilmu pengetahuan, dimasukkan didalamnya
(khususnya bagian fisika). Sekarang dengan tegas dibedakan antara filsafat dan
ilmu pengetahuan. Maka pembagian filsafat seperti yang dikemukakan Aristoteles
masih harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Ide-ide
Aristoteles bukan saja berlaku bagi dunia fisik. Selama hidupnya ia
menghasilkan tulisan-tulisan tentang logika yang diaggap sebagai karyanya yang
terpenting serta tulisan-tulisan tentang metafisika, fisika, etika, dan ilmu
pengetahuan alam. Dalam topik yang disebut belakangan itulah Aristoteles
menjadi salah satu dari ilmuwan pertama yang mengumppulkan dan secara
sistimatis mengklasifikasi spesimen-spesimen biologis. Dalam politik, ia menyarankan
bahwa bentuk pemerintah yang ideal adalah kombinasi antara demokrasi dengan
monarki (Anonim,
2013).
Adapun ajaran-ajaran Aristoteles ialah
logika, filsafat alam, psikologi, biologi, metafisika, etika, politik dan
ekonomi, yaitu: (Anonim. 2012).
a)
Tentang
logika, ia mengajarkan proses pengambilan kesimpulan yang disebut silogisme,
yang terdiri dari pernyataan dalam bagian mayor (dalil umum), minor (dalil
khusus), kesimpulan.
b)
Aristoteles
menyebut jiwa dengan psykhe. Menuru Aristoteles, bukan hanya manusia yang
mempunyai jiwa, tapi semua yang hidup mempunyai jiwa.
c)
Aristoteles
menolak dualism Plato. Karena menurut dia, jiwa dan tubuh adalah dua aspek
berbeda dari substansi yang sama yakni manusia. Pada manusia tidak ada dua
substansi seperti pada ajaran Plato.
d)
Menurut
Aristoteles, jiwa akan binasa pada saat kematian badan. Jiwa manuia, seperti
jiwa tumbuhan dan hewan, tidak bersifat kekal.
Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala
benda. Oleh karena itu dia menamakan filsafat sebagai teologi. Filsafat sebagai
refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya,
tentunya tidak berdiri sendiri, tidak tumbuh diruang dan tempat yang kosong.
Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi
seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oleh karenanya dalam sejarah
pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja
muncul dari zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda (Anonim, 2013).
Aristoteles (381 SM-322 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu
yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika,
logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (Anonim, 2013).
Ringkasan Pemikiran Aristoteles:
“Hidup
bijaksana merupakan hidup menurut rasio sebagai praksis keutamaan untuk
mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan itu bersifat objaktef yaitu hidup yang
bermutu dan bernilai yang dibimbing oleh akal budi bukan sekedar nafsu
kesenangan belaka. Hidup bijaksana berarti juga memperjuangkan kebahagiaan,
keadaan dimana jiwa tidak memerlukan hal material lagi. Orang yang mau hidup
bijaksana itu menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan hidup secara utuh.Untuk
bisa mencapai kepada kebahagiaan perlu pemahaman awal bahwa kebahagiaan itu
buah dari perjuangan dan pengaktualisasi potensi. Kebahagiaan dialami ketika
orang dengan ketetapan hati memperjuangkan nilai luhur. Supaya bahagia, perlu
fokus pada sikap dan perbuatan yang bermakna. Mengembangkan polis dan
berfilsafat merupakan sikap dan tindakan berani menghadapi tantangan akal budi
untuk memperoleh kebahagiaan. Merenungkan hal luhur, menumbuhkan sifat kritis,
terbuka, berdialog, dan rendah hati dalam hidup sebagai cara dan jalan mencapai
kebahagiaan” (Anonim, 2013).
3)
Proses
Pembelajaran
Menurut David Lindberg, Aristoteles (abad ke-4 SM) menulis tentang
metode ilmiah bahkan jika ia dan para pengikutnya tidak benar-benar mengikuti
apa yang dia katakan. Lindberg juga mencatat bahwa Ptolemy (abad ke-2 Masehi)
dan Ibn al-Haytham (11 Century AD) adalah salah satu contoh awal orang yang
melakukan percobaan ilmiah. Juga, John Losee menulis bahwa ”Fisika dan
Metafisika berisi diskusi aspek tertentu dari metode ilmiah”, yang, katanya Aristoteles
melihat penyelidikan ilmiah sebagai perkembangan dari pengamatan
prinsip-prinsip umum dan kembali ke pengamatan. Metode ilmiah adalah proses
dimana ilmu dilakukan. Karena ilmu dibangun di atas pengetahuan sebelumnya,
secara konsisten meningkatkan pemahaman kita tentang dunia Metode ilmiah juga
meningkatkan dirinya dengan cara yang sama, yang berarti: bahwa secara bertahap
menjadi lebih efektif untuk menghasilkan pengetahuan baru misalnya, konsep
pemalsuan (pertama kali diusulkan pada tahun 1934) mengurangi bias konfirmasi
dengan meresmikan upaya untuk menyangkal hipotesis daripada membuktikan bahwa
mereka. Model klasik penyelidikan ilmiah yang berasal dari Aristoteles, yang
membedakan bentuk perkiraan dan tepat penalaran, menetapkan tiga kali lipat
skema abduktif, deduktif, induktif dan inferensi, dan juga diperlakukan senyawa
membentuk seperti penalaran dengan analogi (Harnoko, 2010).
Aristoteles, 384 SM-322 SM ”Mengenai metodenya, Aristoteles diakui
sebagai penemu metode ilmiah karena analisis halus nya implikasi logis yang
terkandung dalam wacana demonstratif , yang melampaui logika alam dan tidak
berutang apa-apa untuk orang-orang yang philosophized hadapannya” (Harnoko,
2010).
Pengembangan metode ilmiah tidak terlepas dari sejarah ilmu
pengetahuan itu sendiri. Dokumen Mesir Kuno menggambarkan metode empiris dalam
astronomi, matematika, dan obat-obatan. Pada abad ke-7 SM Daniel, seorang
tawanan Yahudi raja Babel Nebukadnezar, melakukan eksperimen ilmiah lengkap
dengan hipotesis, kontrol kelompok, kelompok perlakuan, dan kesimpulan.
Kelompok kontrol mengambil bagian dari hidangan raja dan anggur, sedangkan kelompok
uji Daniel membatasi diri mereka untuk sayuran dan air. Pada akhir tes,
hipotesis Daniel terbukti benar (Harnoko, 2010).
Agar metode ilmiah yang benar untuk mengembangkan, Aristoteles
tidak dapat diambil pada nilai nominal. Kesalahan dalam bukunya ”Di Surga” dan
”Fisika” harus disadari dan diperbaiki. Selain itu, pandangan pagan umum di
dunia pada jaman itu diikuti dua konsep yang mencegah mereka dari bergerak
menuju metode ilmiah fungsional: Pandangan organismic alam-alam dan benda-benda
yang diciptakan ilahi atau sendiri tanpa awal atau akhir (Harnoko, 2010).
Dalam rangka untuk mendapatkan metode ilmiah yang benar , hal itu
perlu bagi umat manusia: Menemukan keseimbangan dalam penafsiran Aristoteles
dan filsuf kuno lainnya untuk mengumpulkan, memanfaatkan dan membangun
kebijaksanaan mereka sementara belum bersedia untuk mengkritik kesalahan. Untuk
membebaskan diri dari persepsi bahwa alam mengalami campur tangan ilahi
konstan, mengakui sebaliknya bahwa yang diatur oleh undang-undang sendiri,
meskipun mungkin digerakkan oleh Tuhan, namun jika didorong oleh fenomena alam
dan karena itu ditemukan dan diketahui
(Harnoko, 2010).
Aristoteles dalam proses belajarnya atau pemikirannya ialah logika,
menggunakan metote ilmiah, biologi dan obat-obatan, fisika/metafisika, kesempatan dan spontanitas
dan sebagainya, sebagaimana yang telah
dijelaskan dalam buku Bertens (1997: 132-147), yaitu:
a) Logika
Apa yang kita sebut sekarang logika Arsitoteles, Aristoteles sendiri menyebutnya “analisis”. Istilah “logika” yang berarti dialektika. Sebagian besar dari karya Aristoteles mungkin tidak dalam bentuk aslinya, karena kemungkinan besar diedit oleh murid dan pengajar berikutnya. Karya logika Aristoteles telah dikompilasi ke dalam enam buku pada sekitar awal abad 1M:
Apa yang kita sebut sekarang logika Arsitoteles, Aristoteles sendiri menyebutnya “analisis”. Istilah “logika” yang berarti dialektika. Sebagian besar dari karya Aristoteles mungkin tidak dalam bentuk aslinya, karena kemungkinan besar diedit oleh murid dan pengajar berikutnya. Karya logika Aristoteles telah dikompilasi ke dalam enam buku pada sekitar awal abad 1M:
(1) Categories
(2) On
Interpretation
(3) Prior
Analytics
(4) Posterior
Analytics
(5) Topics
(6) On
Sophistical Refutations
Daftar ini berasal dari analisis tulisan-tulisan Aristoteles. Dimulai
dari dasar, analisis istilah sederhana dalam Kategori, hingga bentuk studi yang
lebih kompleks, yaitu, silogisme (dalam Analisis) dan dialektika (dalam Topics
dan Sophistical Refutations). Ada satu jilid tentang logika Aeistoteles yang
tidak ditemukan di Organon, yaitu empat buku metafisika.
b) Metode Ilmiah
Seperti halnya Plato, filsafat Aristoteles bertujuan universal. Namun
Arsitoteles menemukan universalitas dalam kekhususan yang ia sebut sebagai inti
dari sesuatu, sedangkan Plato menemukan bahwa universalitas merupakan bagian
dari kekhususan tersebut, dan hubungan itu sebagai prototipe atau contoh. Bagi
Arsitoteles, metode filsafat menunjukkan tingkat berikutnya dari studi fenomena
khusus (particular) kepada pengetahuan esensi, sedangkan untuk Plato metode
filsafat berarti penururnan dari pengetahuan tentang bentuk universal
(universal form: atau gagasan) kepada kontemplasi tertentu dari particular
buatan (particular imitations). Untuk Arsitoteles, “bentuk/form” masih
merujuk pada dasar fenomena tak bersyarat (uncondition basic of phenomena)
tetapi “instantiated” dalam substansi tertentu. Dalam beberapa hal,
metode Aristoteles merupakan metode induktif dan deduktif, sementara Plato pada
dasarnya adalah deduktif dari prinsip apriori.
Dalam terminologi Aristoteles, “filsafat alam” adalah cabang filsafat
yang meneliti fenomena alam di dunia, dan mencakup bidang yang sekarang
dianggap sebagai fisika, biologi dan ilmu alam lainnya. Dalam konteks modern,
lingkup filsafat telah menjadi terbatas, seperti etika dan metafisika, dimana
logika memainkan peran utama. Filsafat modern cenderung mengecualikan studi
empiris dengan cara metode ilmiah. Sebaliknya, filsafat Aristoteles berusaha
mencakup hampir semua aspek dari penyelidikan intelektual.
Jika logika (atau “analisis”) yang dianggap sebagai sebuah awal untuk
belajar filsafat, maka divisi dari filosofi Arsitoteles akan terdiri dari: (1)
Logika; (2) Theoretical Philosophy, termasuk metafisika, Fisika,
Matematika, (3) filsafat praktis (4) Filosofi puitis.
Pada periode antara tetap di Athena dengan sewaktu di Sekolah dan Lyceum,
Aristoteles memimpin sebagian besar pemikiran dan penelitian ilmiah yang
menjadikannya ia terkenal saat ini. Bahkan, sebagian besar dari hidup
Aristoteles dikhususkan untuk objek ilmu- ilmu alam. Metafisik Aristoteles
berisi observasi pada sifat nomor tetapi ia tidak memberikan kontribusi
original kepada matematika. Tetapai bagaimanapun, ia melakukan penelitian yang
original dalam ilmu alam, misalnya, botani, zoologi, fisika, astronomi, kimia,
meteorologi, dan beberapa ilmu lainnya.
Arsitoteles dari tulisan-tulisan tentang ilmu pengetahuan yang sangat
kualitatif, sebagai kebalikan dari kuantitatif. Pada awal abad keenambelas,
ilmuwan mulai menerapkan matematika kepada ilmu fisika, dan karya Aristoteles
di wilayah ini dianggap kurang memadai. Kegagalannya sebagian besar disebabkan
oleh tidak adanya konsep seperti massa, kecepatan, kekuatan dan suhu. Dia
memiliki konsep dari kecepatan dan suhu, tapi tidak ada pemahaman kuantitatif,
yang sebagian karena tidak adanya dasar perangkat eksperimental, seperti jam
dan termometer.
Tulisannya memberikan tambahan signifikan bagi khazanah observasi ilmiah,
bercampur dengan akurasi dan kesalahan. Misalnya, dalam Sejarah Binatang
(history of animal) ia menyatakan bahwa laki-laki memiliki gigi lebih banyak
dari perempuan. Dalam nada yang sama, John Philoponus, dan kemudian Galileo,
menunjukkan bahwa percobaan sederhana terhadap teori Aristoteles bahwa benda
berat jatuh lebih cepat dari yang ringan tidak benar.
c) Fisika
(1) Lima elemen
(a) Api, yang panas
dan kering.
(b) Bumi, yang
dingin dan kering.
(c) Udara yang panas
dan basah.
(d) Air yang dingin
dan basah.
(e) Aether, yang
merupakan substansi ilahi yang membuat sampai di langit spheres dan badan-badan
langit (bintang dan planets).
Masing-masing dari empat elemen dunia memiliki tempat alami; tanah di
pusat alam semesta, kemudian air, udara, dan api. Apabila mereka keluar dari
tempat alami mereka maka terjadi gerakan alam, yang tidak memerlukan penyebab
eksternal yang menuju tempat itu, maka tubuh masuk ke dalam air, gelembung
udara, hujan, api di udara meningkat. Di langit elemen- elemen terus bergerak
melingkar.
(2) Hubungan sebab
dan akibat; Empat Penyebab
(a) Penyebab Materi;
adalah sesuatu yang datang ke dalam eksistensi sebagai bagian dari, konstituen,
atau bahan-bahan dasar. Ini akan mereduksi penjelasan tentang penyebab ke
bagian (faktor, elemen, konstituen, bahan) membentuk keseluruhan (sistem,
struktur, kompleks, rumit, komposit, atau kombinasi), sebuah hubungan yang
dikenal sebagai bagian-hal menyebabkan seluruh.
(b) Penyebab Formal;
menunjukan apakah sesuatu itu, bahwa hal itu ditentukan oleh definisi, bentuk,
pola, inti, seluruh, sintesis atau pola dasar. Hal ini meliputi jumlah penyebab
dari segi prinsip-prinsip umum atau hukum, sebagai keseluruhan (yakni,
macrostructure) adalah penyebab komponen, yang dikenal sebagai hubungan seluruh
menyebabkan bagian-hal.
(c) Penyebab
Efisien; adalah bahwa dari mana perubahan atau akhir dari perubahan pertama
dimulai. Ini untuk mengetahui apa yang membuat dari apa yang dilakukan dan apa
yang menyebabkan perubahan dari apa yang berubah. Hal ini dapat merupakan
pemahaman tentang hubungan sebab dan akibat saat ini.
(d) Penyebab Akhir;
adalah bahwa untuk kepentingan apapun yang ada atau dilakukan, termasuk
tindakan disengaja dan tindakan instrumental. Artinya, Penyebab Akhir adalah
tujuan akhir atau dari mana dan ke mana perubahan itu. Ini juga mencakup
ide-ide modern dari penyebab psikologis seperti kemauan, kebutuhan, motivasi,
atau motif, rasional, irasional, etika, yang tujuannya untuk memberikan
perilaku.
Selain itu, sesuatu dapat menyebabkan sesuatu yang lain, sehingga satu
sama lainnya juga begitu. Selain itu, Aristoteles menunjukkan bahwa hal yang
sama yang dapat menyebabkan efek yang berlawanan; kehadiran dan ketidakhadiran
yang dapat menyebabkan hasil yang berbeda. Cukup adalah tujuan atau tujuan yang
membawa aktivitas (mental yang belum tentu tujuan).
Arsitoteles menandai dua model penyebab: Penyebab Proper (prior/ pra) dan penyebab kebetulan (kemungkinan). Semua penyebab, dapat digunakan sebagai potensial atau aktual, khusus atau umum.
Arsitoteles menandai dua model penyebab: Penyebab Proper (prior/ pra) dan penyebab kebetulan (kemungkinan). Semua penyebab, dapat digunakan sebagai potensial atau aktual, khusus atau umum.
Pada dasarnya, hubungan sebab dan akibat tidak menyarankan hubungan
sementara antara penyebab dan efek. Semua penyelidikan lebih lanjut tentang
hubungan sebab dan akibat akan terdiri dari hirarki umum dari urutan penyebab,
seperti akhir> efisien> bahan> formal (Thomas Aquinas), atau untuk
membatasi hubungan sebab dan akibat semua bahan dan penyebab efisien atau
hubungan sebab dan akibat yang efisien (deterministic atau kesempatan).
(3) Kesempatan dan
spontanitas
Spontanitas dan kesempatan adalah penyebab akibat. Kesempatan seperti
halnya insidentil menyebabkan terletak pada bidang kebetulan (accidential)
sesuatu. Ini menunjukan “dari apa yang spontan” (tetapi dicatat bahwa apa yang
spontan tidak datang dari kesempatan). Untuk lebih memahami konsep dari
Aristoteles’s “kesempatan” mungkin lebih baik untuk berpikir tentang
“kebetulan”: Terkadang dilakukan oleh chance jika seseorang menetapkan dengan
sungguh-sungguh satu hal yang harus dilakukan, namun dengan hasil yang lain (
tidak) mengambil tempat.
Sebagai contoh: Seseorang mencari sumbangan. Orang mungkin merasa orang
lain akan menyumbangkan jumlah yang besar. Namun, jika orang yang memerlukan
sumbangan bertemu dengan orang, bukan untuk tujuan mengumpulkan sumbangan,
namun untuk beberapa tujuan lainnya, Aristoteles akan menyebut mengumpulkan
sumbangan dari donator tertentu oleh hasil dari kesempatan. Harus ada sesuatu
yang tidak biasa terjadi oleh chance. Dengan kata lain, jika terjadi sesuatu,
semua atau sebagian besar, tidak dapat disebut sebagai chance. Ada juga yang
lebih spesifik jenis kesempatan yang Arsitoteles namalan “luck”, yang hanya
dapat diterapkan pada manusia, dalam bidang moral dan tindakan. Menurut
Arsitoteles, luck harus melibatkan pilihan, dan hanya manusia mampu melakukan
pilihan. “Apa yang tidak mampu tidak dapat melakukan tindakan apapun oleh
chance”.
d) Metafisika
(1) Subtansi,
Potensi dan Aktual.
Aristoteles mendefinisikan metafisika sebagai “pengetahuan immaterial,”
atau “berada di tingkat abstrak tertinggi.” Dia merujuk kepada metafisika
sebagai “filsafat pertama”, juga sebagai “ilmu agama.” Arsitoteles meneliti
konsep substansi dan hakikat (ousia) dalam metafisika, dan ia menyimpulkan
bahwa substansi tertentu adalah kombinasi dari materi dan bentuk. Ia
menyimpulkan bahwa substansi adalah landas (substratum) atau komposisi bahan,
misalnya rumah terdiri dari batu bata, batu, timbers, atau apapun yang
merupakan potensi rumah . Sedangkan bentuk substansi, yang sebenarnya adalah
rumah, yakni ‘untuk menutupi badan dan gerak. Rumus yang memberikan komponen
adalah jumlah materi, dan formula yang memberikan perbedaan adalah bentuk.
Kesimpulannya, rumah adalah potensi dan bentuk adalah aktualnya.
(2) Universalitas
dan fakta-fakta
Arsitoteles
dari pendahulunya, Plato, berpendapat bahwa segala sesuatu memiliki bentuk
universal, sifat, atau hal lainnya. Ketika kita melihat sebuah apel, misalnya,
kita melihat sebuah apel, dan juga dapat menganalisis bentuk apel. Dalam hal
ini, ada kekhususan apel dan universal bentuk apel. Selain itu, kita dapat
meletakkan apel di samping buku, sehingga kita dapat mengatakan apel dan buku.
Aristoteles
berpendapat bahwa tidak ada yang tidak terikat universalitas untuk hal-hal yang
ada. Menurut Arsitoteles, jika ada yang universal, baik sebagai partikular atau
hubungan, maka harus sudah ada, harus saat ini, atau harus di masa depan,
sesuatu yang universal dapat diprediksi. Akibatnya, menurut Aristoteles, jika
tidak ada obyek universal yang dapat diduga yang aktual di beberapa waktu, maka
ia tidak ada.
e) Biologi dan
obat-obatan
(1) Penelitian
Empiris
Arsitoteles
adalah sejarawan awal alam yang telah bekerja dalam beberapa detail.
Arsitoteles melakukan penelitian mengenai sejarah alam Lesbos, dan sekitarnya
dan daerahsekitarnya. Karya-karyadi bidang ini antara lain, seperti History of
Animals, Generation of Animals, dan Parts of Animals, berisi beberapa observasi
dan interpretasi, bersama dengan berbagai mitos dan kesalahan. Yang paling
mengesankan adalah petikan tentang kehidupan laut terlihat dari pengamatan di
Lesbos. Observasinya pada catfish, ikan listrik (Torpedo) dan angler-ikan yang
rinci, seperti yang tertulis di cephalopods, yaitu, gurita, Sepia (sotong) dan
karya nautilus (Argonauta Argo). Ia memisah-misah mamalia air dari ikan, dan
mengetahui bahwa hiu dan ikan pari adalah bagian dari grup dia sebut Selachē
(selachians).
(2) Klasifikasi
makhluk hidup
Klasifikasi
Aristoteles tentang makhluk hidup berisi beberapa elemen yang masih ada di abad
kesembilanbelas. Apa yang ilmuwan modern menyebutnya hewan invertebrata dan
vertebrata, Aristoteles menyebutnya ‘binatang dengan darah’ dan ‘binatang tanpa
darah’ (dia tidak mengetahui bahwa invertebrata kompleks dilakukan menggunakan
hemoglobin, tetapi dari jenis yang berbeda dari vertebrates). Untuk Charles
Singer, “Tidak ada yang lebih hebat daripada [Aristoteles’s] upaya untuk
menunjukan hubungan kehidupan dalam scala naturae”.
(3) Teori biologis
bentuk dan jiwa
Aristoteles
juga menyatakan bahwa tingkat kesempurnaan dari makhluk yang telah tercermin
dalam bentuk, tetapi tidak terhalang oleh bentuk. Ide seperti ini, dan gagasan
tentang jiwa, tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan sama sekali di abad
modern. Aristoteles, sesuai dengan orang-orang Mesir, meletakkan jiwa rasional
di jantung, bukan otak.
(4) Pengaruh
Pengoobatan pada Helenistik
Guru medis
pertama di Alexandria, Herophilus dari Chalcedon, dikoreksi Arsitoteles, ia
menempatkan intelijen di otak, dan sistem saraf yang terhubung ke gerakan dan
sensasi. Herophilus juga membedakan antara otot dan arteriest. Gagasan sejarah
alam Aristoteles dan obat-obatan selamat , namun umumnya diambil telah diambil
tanpa sepengetahuan.
Pendekatan
yang digunakan oleh Aristoteles adalah empiris. Ia bertolak dari realitas nyata
inderawi. Itulah sebabnya ia begitu mementingkan penelitian di alam dan
mendukung pengembangan ilmu-ilmu spesial. Begitu pula, Aristoteles menolak
paham Plato tentang idea Yang Ilahi, dan bahwa hidup yang baik tercapai dengan
kontemplasi atau penyatuan dengan idea yang ilahi itu (Wikipedia, 2015).
4)
Hasil Belajar Siswa
Pandangan
Aristoteles tentang belajar berdasarkan psinsip Asosiasionisme. Dasar
pandangannya adalah awalnya, manusia tidak tahu apa-apa atau dalam keadaan
kosong. Saat lahir, jiwanya seperti tabularasa (kertas putih belum berisi
coretan dan tulisan). Kemudian, pengetahuannya dibentuk oleh penangkapan
perasaan-perasaan atau kejutan-kejutan dasar, seperti suara-suara, penglihatan,
pembauan dan rasa atau perasaan oanas dan dingin. Selanjutnya, hal-hal yang telah
ditangkap melalui indera-indera berkaitan hanya secara mekanis di dalam jiwa.
Ide-ide pengetahuan yang kompleks terbentuk dari yang sederhana dan secara
mekanis (Anonim, 2013).
Selama
memimpin sekolah kerajaan Macedon, Aristoteles memberi pelajaran tidak hanya
untuk Alexander, tetapi juga untuk dua raja masa depan: Ptolemy dan Cassander.
Dalam Politik, Aristoteles menyatakan bahwa hanya satu hal yang dapat
membenarkan monarki, yakni jika kebaikan raja dan keluarganya lebih besar
daripada kebaikan seisi warga kota jika disatukan. Arsitoteles telah mendorong
penaklukan Alexander ke arah timur. Tahun 335 SM dia kembali ke Athena,
mendirikan sekolah sendiri yang dikenal sebagai Ruang Bacaan (Lyceum).
Arsitoteles mengajar di sekolah tersebut selama dua belas tahun (Deni, 2009).
Arsitoteles
tidak hanya belajar mata pelajaran yang mungkin dipelajari saat itu, tetapi
kontribusi yang signifikan kepada setiap pelajaran tersebut. Dalam ilmu fisik,
Aristoteles mempelajari anatomi, astronomi, ekonomi, embriologi, geografi,
geologi, meteorologi, fisika dan zoology. Dalam filsafat, dia menulis estetika,
etika, pemerintah, metafisika, politik, psikologi, retorika dan teologi. Dia
juga belajar bidang pendidikan, adat asing, sastra dan puisi, sehingga
diasumsikan bahwa Aristoteles mungkin satu- satunya orang yang mengetahui
segala sesuatu yang ada saat itu (Deni,
2009).
Banyak
abad lamanya para ahli beranggapan bahwa karya karanagna Aristoteles yang kita
miliki, mencerminkan secara sistematis pengajaran Aristoteles dalam Lykoion.
Buku-buku yang masih kita miliki, tidask keluar dari tangan Aristoteles dalam
bentuk yang kita kenal sekarang ini. Murid-murid Aristoteles menyusun
karya0karya itu dengan mengumpulkan semua bahanyang menyangkut suatu pokok
tertentu. Tetapi bahan-bahan itu disediakan Aristoteles dalam berbagai periode
hidupnya (Bertens, 1988: 135).
Aristoteles
mempunyai banyak mata pelajaran, termasuk fisika, metafisika, puisi, teater,
musik, logika, retorika, politik, pemerintahan, etika, biologi dan zoologi.
Dibawah ini merupakan hasil belajar, diantaranya:
a) Aristoteles
Organon adalah kontribusi logika dan penalaran-terdiri dari enam buku.
b) Indra
adalah sumber pengetahuan.
c) Bentuk
Manusia universal, atau kategori, dari berbagai persepsi tentang seperti benda.
d) Universal
adalah konsep-konsep, bukan sesuatu (menolak Idealisme Plato).
e) Penalaran
deduktif berdasarkan pengalaman sebagai metode sains dan filsafat.
f)
Dalam ilmu pengetahuan, Aristoteles
menghasilkan buku-buku dalam ilmu alam, biologi, (Sejarah Hewan adalah prestasi
ilmiah terbesarnya) dan psikologi (On the Soul).
g) Metafisika
Aristoteles menghasilkan pandangannya tentang Allah sebagai penyebab pertama,
pikiran murni, internal alam.
h) Etika
adalah berkaitan dengan kebahagiaan individu; Politik adalah berkaitan dengan kebahagiaan
kolektif.
4.
Perbedaan Filsafat Plato dan
Aristoteles dan Implikasinya terhadap Kurikulum Masa Kini
a.
Perbedaan Filsafat Plato dan
Aristoteles
Sistem
ajaran filosofi klasik baru yang dianggap sebagai masa keemasan filsafat
dibangun oleh Plato dan Aristoteles berdasarkan ajaran Socrates tentang
pengetahuan dan etik filosofi alam yang berkembang sebelum Socrates. Socrates
adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Pemikiran-pemikiran
Socrates diikuti oleh Plato sedangkan Plato sendiri juga diikuti oleh
Aristoteles.
Namun
begitu dalam beberapa hal ternyata banyak perbedaan dari ketiganya meskipun
sebagian yang lain ada juga yang sama dan penjadi penerus dari pemikiran
sebelumnya. Socrates sama sekali tidak menuliskan sesuatu tentang filsafat
maupun yang lainnya, banyak pengetahuan kita tentang filsuf itu justru muncul
dalam karya-karya Plato yang diteruskan oleh muridnya Socrates. Pertentangan
Plato dan Aristoteles selain karena adanya perbedaan usia yang cukup signifikan
juga karena dalam beberapa hal pemikiran banyak yang berbeda.
Meskipun
demikian selain bertentangan, Plato dan Aristoteles juga saling melengkapi satu
sama lain. Aristoteles adalah salah seorang tokoh Filosofi Yunani yang terkenal
pada zamannya hingga saat ini, sebelumnya muncul Plato yang merupakan gurunya
sendiri. Sebagai murid, Aristoteles ingin melanjutkan pemikiran gurunya namun
dalam kenyataan selanjutnya Aristoteles mempunyai konsepsi pemikiran yang
berbeda dengan gurunya sendiri.
Pemikiran
Aristoteles hampir setara dengan gurunya sendiri, Plato dan melebihi gurunya
tersebut dalam bidang etika maupun epistemologi (Lavine, 2002: 25).
Plato
memiliki kelebihan dalam hal kepelaporan, memang Aristoteles yang menghasilkan
jawaban-jawabannya, tetapi Platolah yang berhasil menemukan
pertanyaan-pertanyaan dasar yang seharusnya dipertanyakannya sejak semula
bersama Plato dan Socrates, Aristoteles adalah tokoh filsafat yang sangat
penting bagi dunia Barat dan Dunia.
Signifikansi
Aristoteles disebabkan pemikirannya yang lengkap dan luas tentang semua hal,
mulai dari moral, estetika, logika, sains, politik hingga metafisika.
Filsafat
politik Aristoteles pada umumnya merupakan suatu tinjauan terhadap berbagai
jenis Negara, dan bagaimanakah cara terbaik untuk menjalankannya. Pemahamannya
mengenai politik benar-benar sangat mendalam. Kenyataan inilah yang akhirnya
membuat ia menerapkan suatu sikap pragmatis sebagai sesuatu yang betul-betul
bertolak belakang dengan pendekatan idealistik Plato. Aristoteles menganggap
Plato (gurunya) telah menjungkir-balikkan segalanya.
Dia
setuju dengan gurunya bahwa kuda tertentu "berubah" (menjadi besar
dan tegap, misalnya), dan bahwa tidak ada kuda yang hidup selamanya. Dia juga
setuju bahwa bentuk nyata dari kuda itu kekal abadi. Tetapi idea-kuda adalah
konsep yang dibentuk manusia sesudah melihat (mengamati, mengalami) sejumlah
kuda. Idea-kuda tidak memiliki eksistensinya sendiri, idea-kuda tercipta dari
ciri-ciri yang ada pada (sekurang-kurangnya) sejumlah kuda. Bagi Aristoteles,
idea ada dalam benda-benda (Achmadi, 1995: 60).
Selama
bertahun-tahun Aristoteles benar-benar menentang filsafat Plato secara
mendasar. Namun teori metafisikanya tetap saja adaptasi dari metafisika Plato.
Jika Plato memandang bentuk-bentuk sebagai idea-idea yang memiliki keberadaan
sendiri, maka Aristoteles menganggap bentuk-bentuk lebih sebagai esensi yang
mewujud dalam substansi dunia dan bentuk-bentuk tersebut tidak memiliki
keberadaannya sendiri.
Aristoteles
mengajukan sejumlah argumen untuk menghantam teori Idea Plato namun hal itu
ternyata malah menghantam habis teori universalnya sendiri. Sebagai akibatnya
teori-teori Plato yang telah dimodifikasi dalam bentuk doktrin Aristotelian
menjadi begitu dominan didalam perkembangan filsafat abad pertengahan (Poedjiadi, 2001: 19).
Aristoteles
memandang tinggi puisi dengan menyatakannya lebih memiliki nilai dibanding
sejarah, karena lebih besifat filosofis. Sejarah hanya berurusan dengan
kejadian-kejadian tertentu (particular), sedangkan puisi lebih dekat kepada
yang universal. Dalam hal ini ia bertentangan dengan dirinya sendiri dan lebih
menampakkan pandangan Plato.
Dengan
kecintaannya terhadap segala sesuatu yang bersifat matematis dan abstrak, Plato
tampaknya sangat erat dengan kehidupan seperti itu, namun Aristoteles menentang
pendekatan matematis terhadap moral. Sungguh tak mungkin untuk mengkalkulasikan
hal-hal tentang kebaikan. Kebajikan moral memang merupakan suatu keadaan yang
terdapat diantara dua ekstrem, tapi hal ini lebih tergantung pada kodrat
seorang pribadi dan situasi yang melingkupinya (Lavine, 2002: 29).
Pola
pemikiran Aristoteles ini merupakan perubahan yang radikal. Menurut Plato,
realitas tertinggi adalah yang kita pikirkan dengan akal kita, sedangkan
menurut Aristoteles realitas tertinggi adalah yang kita lihat dengan
indera-mata kita. Aristoteles tidak menyangkal bahwa bahwa manusia memiliki
akal yang sifatnya bawaan, dan bukan sekedar akal yang masuk dalam kesadarannya
oleh pendengaran dan penglihatannya.
Namun
justru akal itulah yang merupakan ciri khas yang membedakan manusia dari
makhluk-makhluk lain. Akal dan kesadaran manusia kosong sampai ia mengalami
sesuatu. Karena itu, menurut
Aristoteles, pada manusia tidak ada idea-bawaan (Lavine, 2002: 30).
Aristoteles
sama seperti Plato, berusaha menemukan prinsip universal atas pengetahuan.
Berbeda dengan Plato yang menyatakan bahwa yang universal adalah yang melampaui
benda partikular dan bersifat prototipe atau exemplar, menurut Aristoteles,
yang universal ditemukan dalam setiap yang partikular. Aristoteles menyebutnya
sebagai esensi, atau inti benda-benda. Hal inilah yang membedakan Aristoteles
yang realis dari Plato yang idealis.
Aristoteles
dikenal sebagai peletak dasar logika, dia adalah seorang ahli metafisika yang
hampir setara dengan gurunya sendiri, Plato dan melebihi gurunya tersebut dalam
bidang etika maupun epistemology, Plato memiliki kelebihan dalam hal
kepelaporan, memang Aristoteles yang menghasilkan jawaban-jawabannya, tapi
Platolah yang berhasil menemukan pertanyaan-pertanyaan dasar yang seharusnya
dipertanyakannya sejak semula.
Teori
Plato tentang ide-ide tersebut, mengandung sekian kesalahan yang cukup jelas.
Kendati demikian, pemikiran itu pun menyumbangkan kemajuan penting dalam
filsafat, sebab inilah teori pertama yang menekankan masalah universal, yang
dalam berbagai bentuknya, masih bertahan hingga sekarang. Dari pembahasan
singkat mengenai pemikiran Plato, dapat kita simpulkan adanya perbedaan yang
cukup mendasar antara keduanya tentang realitas hakiki.
Plato
ada pada pendapat bahwa pengalaman hanya merupakan ingatan (bersifat intuitif,
bawaan) dalam diri seseorang terhadap apa yang sebenarnya telah diketahuinya
dari dunia idea, konon sebelum manusia itu masuk dalam dunia inderawi ini.
Menurut Plato, tanpa melalui pengalaman (pengamatan), apabila manusia sudah
terlatih dalam hal intuisi, maka ia pasti sanggup menatap ke dunia idea dan
karenanya lalu memiliki sejumlah gagasan tentang semua hal, termasuk tentang
kebaikan, kebenaran, keadilan, dan sebagainya.
Plato
mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif sebagaimana mudah
dijumpai dalam matematika. Problem filsafati yang digarap oleh Plato adalah
keterlemparan jiwa manusia kedalam penjara dunia inderawi, yaitu tubuh. Ini
adalah persoalan ada (“being”) dan mengada (menjadi, “becoming”) (Poedjiadi, 2001: 27).
Mimesis
merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan Plato dan Aristoteles sejak masa
keemasan filsafat Yunoni Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukkannya
menjadi salah satu pendekatan utama untuk menganalisis sastra selain pendekatan
ekspresif, pragmatik dan objektif. Mimesis merupakan ibu dari pendekatan
sosiologi sastra yang darinya dilahirkan puluhan metode kritik sastra yang
lain.
Mimesis
berasal bahasa Yunani yang berarti tiruan. Dalam hubungannya dengan kritik
sastra mimesis diartikan sebagai pendekatan sebuah pendekatan yang dalam
mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan
realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi
sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang
menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan (Abidin,
2011: 135).
Aristoteles
mengemukakan kritik yang sangat tajam atas pendapat Plato tentang ide-ide, yang
ada ialah manusia ini dan manusia itu, jadi manusia konkret saja. Tetapi Ide
manusia tidak terdapat dalam kenyataan. Hal yang sama berlaku juga untuk ide
segitiga dan semua ide lain. Tetapi aristoteles menyetuji anggapan Plato bahwa
ilmu pengetahuan berbicara tentang yang umum dan tetap. Ilmu pasti tidak
berbicara tentang ini atau itu tetapi segitiga pada umumnya.
Filsafat
politik Aristoteles pada umumnya merupakan suatu tinjauan terhadap berbagai
jenis Negara, dan bagaimanakah cara terbaik untuk menjalankannya. Pemahamannya
mengenai politik benar- benar sangat mendalam.
Kenyataan
inilah yang akhirnya membuat ia menerapkan suatu sikap pragmatic sebagai
sesuatu yang betul-betul bertolak belakang dengan pendekatan idealistic Plato.
Aristoteles dan Plato keduanya dipandang sebagai dua tokoh yang mewarnai
filsafat dan bahkan pencetus dan peletak dasar dan ketentuan-ketentuannya.
Perbedaan yang ada pada keduanya hanya pada system yang digunakan dan juga
karena usia yang berbeda pada masa yang sama (Sudarsono, 1993: 44).
b. Implikasi
terhadap Kurikulum Masa Kini
1)
Filosofi Idealisme
Schubert
(1993) mengemukakan bahwa aliran filsafat idelisme dibangun oleh Plato
berazaskan ide-ide atau idealism, aliran filsafat ini termasuk yang paling tua
(tradisional), tetapi pengaruhnya masih tetap terasa sampai sekarang. Salah
seorang filosof German bernama Hegel mengikuti aliran filsafat idealisme. Hegel
memandang dunia secara transcendental. Filosof Amerika Serikat Ralph Waldo
Emerson dan Henry Thoreau juga mengikuti aliran ini. Mereka memandang realitas
berdasarkan pandangan idealisme. Fredrich Froebel pendiri Taman Kanak-Kanak
(TK) landasan pedagogiknya didasarkan pada filsafat idealisme. William Harris
mempopulerkan TK di sekolah St. Lois Missouri dan menjadi Komisaris pendidikan
abad ke-20 konsep administrasi menggunakan filsafat idealisme, dan termasuk J.
Donael Butler salah seorang filosof Amerika pada abad kontemporer mengikuti
aliran filsafat idealisme.
Filsafat
idealisme menjelaskan kepada dunia bahwa moral, spiritual, kebenaran dan nilai
adaah absolute, universal dan kebenarannya tidak dibatasi oleh waktu. Dunia
idea tau pikiran (mind) adalah tetap,
teratur dan tertib. Untuk mengetahui ide yang bersifat laten (ide bawaan)
dengan jalan berpikir, tugas guru mengajarkan pengetahuan dengan sadar sebagai
langkah proses pengembangan keterampilan berpikir, belajar adalah melatih
pikiran (mind). Pendidikan menekankan
pada konsep-konsep materi. Kurikulum menekankan pada subject matter untuk
mengembangkan kecerdasan berpikir rasional dengan cara menyelaraskan konsep
dengan pengetahuan. Kurikulum bersifat khirarki (bertingkat), kurikulum
mementingkan kebudayaan yang manusiawi, kedisiplinan, dan kurikulum
berorientasi pada liberal arts mencakup pelajaran: membaca (reading), menulis (writing), dan (arithmetic)
(Juanda, 2012: 93).
Longstreet
dan Shane (1993) dan Schubert (1993) menjelaskan bahwa dalam tingkat-tingkat
pelajaran meliputi: filsafat, teologi, dan matematika (matematika penting untuk
melatih pikiran), sejarah dan sastra (sumber moral dan kebudayaan). Kurikulum
untuk sekolah tingkat bawah ilmu alam, sains dan bahasa (bahasa penting untuk
komunikasi dan sebagai fasilitas pengembangan berpikir).
Isi
pesan filsafat idealisme menghendaki pengembangan dan implementasi kurikulum
mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi tetap menekankan pentingnya
pesan nilai-nilai (values), dan moral supaya diabadikan. Nilai dan moral tetap
diajarkan kepada setiap siswa di berbagai tingkat sekolah. Nilai dan moral
menurut kaum idealis adalah sesuatu yang tak mudah lapuk oleh hujan dan tak
lekang oleh panas, ia “abadi” sepanjang
zaman. Filsafat ini banyak dianut oleh lembaga pendidikan keagamaan atau
pendidikan militer atau setiap lembaga lainnya baik disadari atau tidak tetap
mereka menstransferkan nilai-nilai dan moral kepada para siswanya. Tujuan
transfer nilai-nilai dan moral agar para siswa taat dan patuh serta disiplin
menjalankan nilai-nilai dan moral itu setelah mereka lulus dari lembaga
tersebut (Juanda, 2012: 94).
Nilai
dan moral yang dimaksud sebagai pengangan hidup yang ditransferkan kepada siswa
diambil dari agama, budaya, dan filsafat hidup yang dianut oleh individu atau
kelompok tertentu. Ciri utama filsafat ini selain bersifat normatif, juga
mementingkan pengembangan keterampilan berpikir melalui belajar matematika.
Tokoh utama filsafat idealisme bernama Plato, ia mengingatkan begitu pentingnya
matematika sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan berpikir selanjutnya
Plato menegaskan “jangan masuk perguruan tinggi saya kalau tidak menguasai
matematika” (Juanda, 2012: 94).
Schubert
(1993) mengemukakan bahwa kegiatan belajar mengajar didominasi oleh guru. Guru
sebagai pusat pengetahuan bagi siswa, sementara siswa hanya menerima apa yang
diajarkan oleh guru (teacher centered).
Sekaligus gurulah yang memilih dan menentukan bobot tingkat kurikulum yang
diajarkan kepada siswa; dan evaluasi hasil belajar siswa cenderung kuantitatif
(pengembangan keterampilan intelektual memperoleh porsi yang tinggi). Sumbangan
terbesar filsafat idealisme terhadap kurikulum terlihat setiap lembaga
pendidikan mewajibkan adanya pembelajaran matematika, nilai-nilai, moral,
kecerdasan spiritual, dan agama. Tujuan akhir pendidikan menurut Plato agar
siswa menjadi orang yang mencintai kebijaksanaan (Plato saw the virtuous life as ultimate goal).
Ozman dan Craver (1990) menyatakan bahwa gagasan filsafat
realisme dibangun oleh Aristotles sebagai lawan filsafat idealisme Plato.
Aristotles belajar pada akademi Plato selama 20 tahun. Dalam menyelesaikan
problema kehidupan cara berpikir antara Plato sebagai guru dan Aristotles
sebagai murid berbeda. Plato lebih mengutamakan pikiran (developed the view), sementara Aristotles mementingkan materi (proper study of matter).
Aliran filsafat realisme termasuk filsafat tradisional dan
masih diajarkan hingga sekarang oleh para pengikutnya. Kaum realis memandang
suatu gejala berasal dari alam (nature),
tingkah laku manusia diatur atau tunduk kepada hukum alam dan manusia diatur
oleh hukum fisika dan hukum sosial (Juanda, 2012: 95).
Selanjutnya Ozman dan Craver mengemukakan segi-segi kesamaan
kaum realis dengan kaum idealis, menekankan organisasi kurikulum pada separated subject matter (mata pelajaran
terpisah-pisah) sebagai isi kurikulum (content)
dan klasifikasi objek pengetahuan. Kurikulum bersifat khirakis (bertingkat-tingkat).
Materi pelajaran meliputi pendidikan umum, logika, olah raga, etika, politik,
ekonomi, dan Tiga R (reading, writing,
arithmetic) untuk siswa pendidikan dasar (Juanda, 2012: 95).
Segi perbedaan kaum realis dengan idealis menurut kaum idealis
mata pelajaran (subject matter)
bersifat ideal, sebab kurikulum sudah mapan dan tidak akan berubah oleh waktu.
Berbeda dengan kaum realis berpandangan bahwa subject matter yang menentukannya
berdasarkan keahlian (expert) sebagai
sumber otoritas. Kaum idealis berkeyakinan bahwa pengetahuan (knowledge) berdasarkan dari ide bawaan
dan kebenarannya universal, paham ini ditolak oleh kaum realis, menurut mereka
bahwa pengetahuan dan kebenaran bersumber dari sains bukan dari ide bawaan
(Juanda, 2012: 95).
Implikasi filsafat realisme terhadap pengembangan kurikulum
diberbagai jenjang pendidikan mengutamakan penelitian ilmiah untuk mendapatkan
sains. Keyakinan kaum realis bahwa sumber pengetahuan diperoleh dari penelitian
(research) berdasarkan fakta-fakta yang
dapat diamati (observable) oleh panca
indera (mata, hidung, telinga, lidah dan kulit), dan dapat diukur (measurable) secara matematis sebagai
jalan terbukanya pengetahuan sains. Sumbangan filsafat ini di sekolah-sekolah
terlihat ada pelajaran IPA (fisika, kimia, biologi), sebagai materi pelajaran
yang bersifat kebendaan. Sikap kaum realis terhadap kebenaran nilai dan moral
dilihat dari tindakan (performance)
seseorang yang dapat diamati secara kasat mata. Artinya, seseorang berbuat baik
atau tidak baik atau salah, jujur atau tidak jujur, sopan tidak sopan, dan
tingkah laku lainnya dapat diukur.
Mengenai kegiatan belajar mengajar, pengembangan kurikulum
kaum realis banyak kesamaan dengan kaun idealis, yaitu berpusat pada guru
sedangakn siswa pasif. Evaluasi hasil belajar siswa selain menekankan pada
kemampuan rasio (akademik) juga pada hasil riset. Tujuan akhir pendidikan
menurut Aristotle adalah kebahagiaan duniawi (Aristotle’s vision was one of happineess) (Schubert, 1993).
Menurut kaum realis religious dengan meneliti alam semesta
akan terbuka kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Alam semesta
diciptakan Tuhan dengan tertib atau teratur. Seorang agamawan bernama Tomas
Aquinas menyatakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta disediakan untuk kepentingan
manusia agar manusia sadar mengetahui kekuasaan Tuhan di atas segala-galanya
(Juanda, 2012: 96).
C.
Rangkuman
dan Tugas
1.
Rangkuman
a.
Periode Yunani Klasik merupakan
zaman keemasan Filsafat, karena pada periode ini orang-orang memiliki kebebasan
untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya.
b.
Perbedaan Filosof Yunani Kuno dan
Yunani Klasik terletak pada ajarannya. Filosof Yunani Kuno menekankan pada
filsafat alam, ilmu pasti, atau metafisika sedangkan filosof Yunani Klasik
lebih tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia,
moral, norma, dan politik.
c.
Socrates merupakan salah satu
filosof besar zaman Yunani Klasik yang lahir di Athena pada tahun 470 M dan
meninggal pada tahun 399 M.
d.
Socrates berpendapat bahwa tidak
semua kebenaran itu relative tetapi ada kebenaran umum yang dapat di pegang
oleh semua orang dan sebagian kebenaran memang relative.
e.
Ajaran Socrates lebih menekankan
kepada sains dan agama yang bertolak dari pengalaman sehari-hari yang di
peroleh secara dialetika.
f. Plato merupakan
salah satu filsuf yang terlahir di Atena pada tahun427 SM, dan meninggal pada
tahun 347 SM di Atena pula pada usia 80 tahun.
g. Plato
memiliki nama asli Aristokles, gurunya memberikan nama “Plato” dikarenakan
postur tubuhnya yang tegak, tinggi, bahunya yang lebar dan raut mukanya yang
tegap, serta parasnya yang elok.
h. Ajaran dan karya kefilsafatan
Plato antara lain konsep tentang ide, ajaran tentang jiwa dan konsep tentang
negara.
i.
Aristoteles
adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari
Alexander yang Agung yang hidup antara 384 SM sampai 322 SM.
j.
Ajaran dan karya Arostoteles yaitu menulis tentang berbagai subjek yang berbeda,
termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan,
etnis, biologi dan zoologi.
k.
Aristoteles meliputi 3 tahap, yaitu tahap di
Akademi, ketika ia masih setia kepada gurunya, Plato, termasuk ajaran Plato
tentang idea; tahap ia di Assos, ketika ia berbalik dari Plato; dan tahap
ketika ia di sekolahnya di Athena.
l.
Perbedaan Filsafat Plato dan
Aristoteles selain karena adanya perbedaan usia yang cukup signifikan juga
dalam beberapa hal pemikiran yang berbeda. Aristoteles menerapkan suatu sikap
pragmatis yang bertolak belakang dengan pendekatan idealistik Plato. Adapun
Implikasinya terhadap Kurikulum Masa Kini yaitu filsafat idealisme dalam
mengembangkan misi agama, filsafat realisme mengembangkan sains dan teknologi,
pragmatisme menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan, dan filsafat
eksistensialisme dalam hal mengaktualisasikan diri.
2.
Tugas
a.
Aliran filsafat apa yang mengawali
berkembangnya filsafat Yunani Klasik?
b.
Dimana letak perbedaan Filosof
Yunani Kuno dan Yunani Klasik?
c.
Mengapa ajaran dan pemikiran
Socrates banyak di tentang oleh kaum sufis ?
d.
Bagaimana cara Socrates menerapkan
proses pembelajaran dengan cara dialetika?
e.
Jelaskan awal mula pemberontakan di
Athena pada masa Socrates!
f.
Jelaskan
kembali riwayat hidup Plato secara ringkas!
g.
Sebutkan
ajaran dan kefilsafatan Plato? Jelaskan!
h.
Bagaimana
sumbangan pemikiran filsafat Plato terhadap kurikulum
yang dikembangkan?
i.
Sebutkan dan jelaskan
ajaran dan karya kefilsafatan Aristoteles?
j.
Bagaiman sumbangan
pemikiran filsafat Aristoteles terhadap
kurikulum yang dikembangkan
k.
Apa saja hasil belajar siswa yang
telah diberika kepada Aristoteles?
l.
Apa perbedaan filsafat Plato dan
Aristoteles serta bagaimana implikasinya terhadap kurikulum masa kini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar